nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI: Pelemahan Rupiah Tidak Terlalu Dalam

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 19:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 14 278 1872841 bi-pelemahan-rupiah-tidak-terlalu-dalam-hWGm5I9k99.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Bank Indonesia mencatatkan Rupiah terdepresiasi 0,27% terhadap Dolar Amerika Srikat (AS) sejak awal Maret hingga hari ini. Saat ini Rupiah memang menunjukkan tren terdepresiasi dengan bergerak di level Rp13.700 per USD

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi menyatakan, angka tersebut masih lebih terjaga dibandingkan mata uang negara lain yang juga terdepresiasi terhadap dolar AS.

Dia menyebutkan, sepanjang Maret hanya Afrika Selatan yang mengalami pelemahan mata uangnya lebih rendah dari Indonesia yaitu sebesar 0,17%. Namun negara lain lebih besar, seperti mata uang Turki yang melemah 0,32%, Brazil 0,28%, dan Rusia 0,49%.

"Jadi pelemahan kita tidak terlalu dalam, jika dibandingkan beberapa negara, pelemahan kita lebih kecil," ujar dia di Gedung BI, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

 Baca Juga: Rupiah Terus Menguat, BI: Karena Ada "Masalah" di Amerika

Dia pun mengatakan, Rupiah sudah mulai menujukkan penguatan sejak sepekan terakhir ini. Dimana pada Kamis 8 Maret 2018 lalu, Rupiah tercatat di level Rp13.816 per dolar AS. Hari ini, berdasarkan Jisdor BI, Rupiah berada di level Rp13.739, menunjukkan penguatan 18 poin dibandingkan hari sebelumnya di Rp13.757 per USD.

Kendati demikian, angka ini diakuinya masih lebih rendah ketimbang penguatan pada mata uang negara Malaysia dan Korea Selatan. "Malaysia justru menguat tipis, Korea Selatan menguat cukup signifikan. Lagi-lagi, negara-negara regional yang menguat ini karena current account surplus," ucapnya.

Terkait volatilitas nilai tukar Rupiah sepanjang 2018 mencapai 8%. Lagi-lagi, kata Doddy jauh lebih rendah dibandingkan negara lain, seperti mata uang Brazil yang sebesar 15%, Mexico 13%, Turki 88%, dan Rusia 14%.

"Bahkan negara-negara yang tadi di regional lebih menguat, votalitas cukup tinggi," ucapnya.

 Baca Juga: BI Proyeksikan Rupiah Tidak Akan Sampai Rp15.000

Sementara itu dengan negara tetanggga juga tercatat lebih tinggi dari volatilitas Rupiah. Volatilitas mata uang Korea tercatat di atas 8%, Malaysia 9,3%, Filipina 8,2%, Thailand 9%.

"Yang perlu kita jaga betul-betul adalah votalitas. Dari data-data tersebut, pergerakan nilai tukar Rupiah bukanlah yang paling fluktuatif, dari angka votalitas tadi dari negara yang dipandang punya semuanya, lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara regional," pungkasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini