nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Laba PGN Anjlok 5 Tahun Terakhir, Begini Respons Kementerian BUMN

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 16:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 14 320 1872677 laba-pgn-anjlok-5-tahun-terakhir-begini-respons-kementerian-bumn-bmyff2CJT9.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjamin turunnya laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk selama lima tahun terakhir tidak akan membebani PT Pertamina (Persero) ketika holding BUMN Migas dibentuk.

Dalam strukturnya Pertamina akan menjadi induk holding dan PGN menjadi anak usahanya. Dari situ, akan dibuat sub holding antar anak usaha yang mengurusi sektor gas antara PGN dengan Pertagas.

 Baca juga: Kinerja Keuangan PGN Bisa Jadi Beban Pertamina saat Holding Terbentuk

Berdasarkan catatan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), laba bersih Perusahaan Gas Negara (PGN) turun sejak 2013-2017. Di 2013 laba bersih sebesar USD838 juta, 2014 sebesar USD711 juta, 2015 sebesar USD403 juta, 2016 sebesar USD304 juta dan di 2017 sebesar USD98 juta.

Deputi Bidang Usaha Tambang, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan, penurunan laba bersih sebenarnya tidak hanya terjadi pada PGN, tapi Pertamina juga terkena. Oleh karena itu, tidak ada pengaruh apapun dengan adanya pembentukan holding BUMN Migas.

Baca juga: Aturan Teknis Holding BUMN Belum Dibahas

"Ini kan ada faktor eksternal. Pertamina dan PGN kondisi laba turun, karena itu dilakukan seperti itu," tuturnya, di ruang rapat Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Menurut Fajar, dibuatnya holding BUMN Migas justru akan memperkuat kinerja masing-masing perusahaan. Hal tersebut menjadi salah satu kajian yang memutuskan holding BUMN Migas pertu dibentuk.

"Jadi gini sehat sih sehat, memang ada masalah-masalah.Apakah memberatkan Pertamina tidak, tentunya sudah ada kajian," ujarnya.

Menurut Fajar, pendapat Komisi VI untuk evaluasi PP Holding BUMN Migas harus diterima. Bahkan jika perlua dilakukan sesi khusus untuk membahas soal kinerja PGN yang terus menurun.

"Tadi saya sampaikan ke Komisi VI namanya PP sebelum keluar banyak jalannya dan bukan hanya Kementerian BUMN sendiri. Jadi itu banyak kajian bersama dengan Kementerian Keuangan dan BUMN," tuturnya.

Sebenarnya, kata Fajar, kinerja PGN sudah terpantau dengan baik. Sebab sebagai perusahaan terbuka, maka

sudah dilakukan audit keuangan terhadap kinerja perusahannya.

"PGN kan publik company jadi kan setiap tahun keuangan dan audit seperti apa bisa dilihat. Jadi bahwa ada hal-hal dipertimbangkan iya," tandasnya.

Kinerja Keuangan PGN Bisa Jadi Beban Pertamina saat Holding Terbentuk

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini