Neraca Perdagangan Februari Diproyeksi Defisit USD56 Juta

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 15 Maret 2018 08:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 15 320 1873000 neraca-perdagangan-februari-diproyeksi-defisit-usd56-juta-hSBzqq0GxJ.jpg

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis neraca perdagangan sepanjang Februari 2018. Adapun pada Januari 2018 mengalami defisit sebesar USD670 juta.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, untuk sepanjang bulan lalu defisit akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan bulan Januari.

"Neraca perdagangan Februari 2018 diperkirakan defisit USD56 juta, dengan laju ekspor diperkirakan sebesar 11,9% yoy dan laju impor diperkirakan sekitar 24,8% yoy," ungkap Josua kepada Okezone, Kamis (15/3/2018).

 Baca juga: BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Januari Defisit USD670 Juta

Menurutnya, laju ekspor Februari diperkirakan ditopang oleh kenaikan harga komoditas kelapa sawit dan karet alam. Volume ekspor juga meningkat terindikasi dari kenaikan aktivitas manufaktur dari mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok dan ASEAN, meskipun aktivitas manufaktur AS, Eropa dan Jepang cenderung menurun tipis.

Untuk impor diperkirakan tumbuh hampir 25% yoy ditopang oleh kenaikan aktivitas manufaktur domestik yang akan mendorong impor bahan baku dan barang modal.

Sementara itu Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi, neraca perdagangan Februari kembali defisit sebesar USD250 juta-USD300 juta.

 Baca juga: Impor Migas Penyebab Neraca Perdagangan Alami Defisit USD670 Juta

"Defisit disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor akibat koreksi harga beberapa komoditas salah satunya CPO yang berkontribusi sebesar 15% terhadap ekspor non migas," jelasnya.

Bhima melanjutkan, dari sisi impor migas nilainya diprediksi meningkat terlebih karena kurs Rupiah sepanjang Februari melemah. Pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal masih akan tinggi menunjukkan kenaikan permintaan dari industri manufaktur. Diharapkan hal ini jadi indikasi peningkatan pertumbuhan sektor manufaktur pada triwulan II mendatang.

"Yang perlu diwaspadai defisit perdagangan diprediksi masih akan terjadi hingga menjelang lebaran didorong oleh naiknya impor barang konsumsi secara musiman. Perang dagang dengan AS dan Eropa juga memunculkan kekhawatiran akan menurunnya kinerja ekspor non migas tahun ini," tukas dia.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini