Rupiah Anjlok, Faisal Basri: Jangan Nyalahin Faktor Luar Melulu

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 16 Maret 2018 18:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 16 20 1873886 rupiah-anjlok-faisal-basri-jangan-nyalahin-faktor-luar-melulu-Jm2IOh15qK.jpg Faisal Basri (Foto: Giri Hartomo/Okezone)

JAKARTA - Pengamat Ekonomi (Ekonom) Faisal Basri ikut berkomentar terkait pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pernah menyentuh angka Rp13.800 per USD.

Menurutnya, melempem-nya mata uang Rupiah dikarenakan defisit neraca perdagangan yang terjadi di Indonesia dalam periode tiga bulan terakhir. Padahal sebelumnya, Indonesia tidak pernah mengalami defisit perdagangan.

Menurutnya, ada tiga industri yang membuat defisit perdagangan. Ketiga perdagangan tersebut adalah pada sektor manufaktur, makanan dan minuman (FnB) dan migas.

"Jadi neraca perdagangan kita defisit terus. Kita tekor di food makanan. Makanan kita defisit di 2016 USD2,1 miliar. Kita defisit juga defisit di migas. Jadi wajar kan kalau Rupiah melemah," ujarnya dalam sebuah diskusi di Bebek Bengil, Jakarta, Jumat (16/3/2018).

Defisitnya neraca perdagangan tidak terlepas dari kurang fokusnya pemerintah dalam menggarap sektor industri. Padahal di negara-negara maju, sektor industri merupakan salah satu pendorong perekonomian.

"Akibatnya ekspor masih didominasi oleh komoditi primer. Ekspornya batu bara sawit yang harganya gonjang ganjing jadi ekonomi kita rentan terhadap," jelasnya.

Selain itu lanjut Faisal Basri, lemahnya Rupiah belakangan juga dikarenakan daya tahan tubuh dari perekonomian Indonesia sangat lemah. Sehingga ketika fundamental perekonomian dunia bergejolak, maka ekonomi dalam Indonesia akan itu goyang.

"Betul juga kalau semua dipicu faktor luar. Sama kita sama sama ada di luar sana menghadapi polusi virus tapi enggak semuanya sakit. Kalau daya tahan tubuh kita lemah kita sakit. Jadi jangan nyalahin melulu faktor luar, faktor luar bisa kita tepis kalau daya tahan tubuh kita bagus," jelasnya.

Selain itu lanjut Faisal Basri, lemahnya Rupiah juga dikarenakan pemerintah yang terlalu berfokus mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk berbisnis. Padahal seharusnya tujuan adanya BUMN adalah untuk kedaulatan dan kepentingan rakyat.

"BUMN tidak bisa dilakukan dengan pendekatan koorporasi semata tapi harus dijadikan sebagai ujung tombak pembangunan," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini