Share

Pertemuan Puncak KTT, Presiden: Asean-Australia Harus Jadi Lokomotif Perdagangan Bebas

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 18 Maret 2018 13:51 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 18 320 1874415 pertemuan-puncak-ktt-presiden-asean-australia-harus-jadi-lokomotif-perdagangan-bebas-w1Z5IOR8Lr.jpg Foto: Presiden Jokowi (Setkab)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini, menghadiri puncak acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Istimewa ASEAN-Australia 2018, yang digelar di International Convention Centre (ICC), Sydney, Australia. Turut hadir mendampingi Presiden Jokowi antara lain Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekreteris Negara Pratikno, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Kepala BKPM Thomas Lembong.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa kerja sama ekonomi ASEAN-Australia memiliki nilai strategis. Bahkan Jokowi menyebut perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN, Australia, dan Selandia Baru disebut sebagai perjanjian paling maju bagi ASEAN.

“Kita catat bahwa ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement memiliki tingkat liberalisasi barang rata-rata 93,5%,” ujarnya dikutip dari Website Sekertariat Kabinet (Setkab), Minggu (18/3/2018)

Oleh karena itu, Presiden mengatakan ASEAN-Australia juga harus menjadi lokomotif sistem perdagangan bebas yang terbuka dan adil di kawasan. Komitmen ini, lanjut Presiden, harus dipertegas di kawasan yang lebih luas.

“Regional Comprehensive Economic Partnership Agreement (RCEP) adalah pertaruhan komitmen kita terhadap sistem perdagangan multilateral di kawasan yang saling menguntungkan semua pihak. Saya ulangi, kemitraan yang menguntungkan semua pihak. Oleh karena itu, kita harus kuatkan komitmen untuk menyelesaikan perundingan RCEP di tahun 2018 ini,” katanya.

“Tentu dalam sebuah kesepakatan tidak semua yang kita inginkan dapat kita capai. Inilah sesungguhnya makna dari kerja sama, pendekatan win-win dan bukan zero-sum,” lanjut Presiden.

Menurut Presiden, RCEP dapat menjadi pakta perdagangan bebas terbesar dunia. RCEP mewakili hampir setengah populasi dunia, 31,6 persen dari Gross Domestic Product (GDP) global dan 28,5 persen dari perdagangan dunia. Di saat yang sama, lanjut Presiden, RCEP akan menjadi antitesa gerakan proteksionisme global. (gir)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini