Kemenpar Susun SOP Penyelenggaraan Event Dorong Nilai Komersial

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 20 Maret 2018 13:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 20 320 1875330 kemenpar-susun-sop-penyelenggaraan-event-dorong-nilai-komersial-v9wVxMZi2b.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan menggandeng para pakar segera membuat pedoman atau standard operating procedure (SOP) penyelenggaraan event di Indonesia agar lebih berkualitas dan sesuai standar nasional sehingga target nilai budaya dan komersial dari event itu bisa tercapai.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, pengalaman dari penyelenggaraan 100 Calender of Event (CoE) 2018 bisa dijadikan dasar dalam menyusun SOP. Penyelenggaraan event setidaknya harus memperhatikan dua hal utama, yaitu sisi penyelenggaraan dan pemasarannya.

“Dari sisi penyelenggaraan nanti di lapangan akan ada pendampingan, semacam shadow management. Di situ siapa kuratornya, sutradaranya, itu harus menguasai hingga detilnya,” ujar Arief seusai membuka Workshop/Coaching Penyelenggaraan CoE 2018 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, kemarin.

Terkait pemasaran, Arief mengingatkan pentingnya promosi pre-event, di mana 50% anggaran hendaknya dialokasikan untuk pre-event. Hal ini penting untuk menarik lebih banyak pengunjung atau wisatawan dari luar sehingga dampak ekonomi atau nilai komersial dari event itu juga lebih tinggi.

“Untuk mengetahui returnnya, saya selalu tanya berapa jumlah wisatawan yang hadir saat event diselenggarakan karena untuk mengingatkan bahwa event pariwisata itu tidak untuk ditonton sendiri, tapi lebih menarik orang luar untuk datang. Selain dampak langsung, ada juga dampak tidak langsung seperti media value, “ tandasnya.

Arief menambahkan, 100 event yang masuk CoE 2018 di kurasi oleh tim kurator dengan standar nasional, sedangkan dalam menetapkan nilai budaya dan nilai ekonomi komersialnya belum ada pedoman dan perlu segera dibuat SOP serta petunjuk pelaksanaan teknis (juknis)-nya. SOP itu akan memunculkan nilai budaya dan nilai komersial dari setiap event. Khusus nilai komersial, harus dimonetized (di hitung nilai ekonominya) sehingga bisa diketahui dampak ekonominya pada kesejahteraan masyarakat.

Arief mengungkapkan, Top 100 CoE 2018 yang terdiri atas 50 events budaya, 30 event alam, dan 20 event buatan memiliki nilai komersial tinggi.Hal itu terlihat sudah banyak perusahaan yang berminat untuk melakukan kerjasama sebagai sponsor atau menjadi co-branding.

Pada kesempatan yang sama, pakar pemasaran Jacky Mus sry mengatakan, event bisa menjadi katalisator pariwisata daerah. Event itu sendiri adalah bisnis sehingga harus ada return-nya. “Event di luar negeri itu baik yang besar atau kecil ada hasilnya. Semua dipikirkan dengan detail dan ada return-nya. Return itu bisa berupa finansial atau pun non finansial misalnya seberapa besar kepuasan pengunjung. Ini penting di evaluasi untuk menentukan strategi penyelenggaraan event ke depan,” kata Deputi CEO Mark Plus itu.

Direktur Eksekutif MarkPlus Nalendra Pradono menam bahkan, event juga harus punya konsistensi terkait target pasarnya. Tema yang diusung pun harus sesuai dengan tema atau keunggulan destinasinya. “Ciptakan juga diferensiasi yang unik. Contohnya Jazz Gunung di Bromo yang memadukan musik, alam, dan kepedulian lingkungan,” tuturnya.

Kasie Informasi Pemasaran Dinas Pariwisata Sumenep Toufan mengatakan, kebanyakan kabupaten/kota masih kesulitan dalam mendeteksi dampak ekonomi dari sebuah event. Terlebih, jika dana event bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), sulit menghitung detail pengunjung karena tidak ada sistem tiket.

“Di Sumenep ada event, tapi tidak terdeteksi data post-event-nya, apalagi kalau pakai dana APBD. Kalau swasta, mungkin lebih mudah mendeteksi lewat penjualan tiket, sedangkan kami tidak bisa,” ujarnya kepada KORAN SINDO.

Staf Ahli Multikultural selaku Ketua Tim Pelaksana CoE 2018 Esthy Reko Astuti menambahkan, 100 event CoE 2018 nanti akan ada pendampingan sehingga kelemahannya akan terus diperbaiki serta menjadi rujukan bagi event lain.

(inda susanti)

(yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini