Baru 10% ATM yang Pakai Chip, Bank Mandiri Perhitungkan Biaya Produksi

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Selasa 20 Maret 2018 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 20 320 1875377 baru-10-atm-yang-pakai-chip-bank-mandiri-perhitungkan-biaya-produksi-jXe8MrlfvA.jpg Ilustrasi (shutterstock)

JAKARTA - PT Bank Mandiri Persero Tbk mengaku baru 10 persen atau 1,5 juta kartu ATM/debit milik Bank Mandiri yang sudah menggunakan teknologi chip, sedangkan sisanya masih menggunakan pita magnetik (magnetic stripe). Senior Vice President Consumer Deposit Bank Mandiri Tri Laksito Singgih di Jakarta, kemarin, mengatakan perseroan sedang mempercepat perpindahan dari kartu pita magnetik ke chip dengan target di akhir tahun menjadi tujuh juta kartu atau 41 persen dari total kartu ATM/Debit yang beredar.

"Ini untuk menaikkan tingkat keamanan. Dengan chip potensi 'skimming' (pencurian) data akan berkurang," kata dia.

Tri mengatakan perseroan memang harus memperhitungkan peningkatan biaya produksi untuk migrasi dari pita magnetik, karena chip memerlukan biaya investasi yang lebih mahal. Namun, dia menjamin, penambahan biaya tidak akan dibebankan ke konsumen, karena menjadi beban operasional perseroan.

"Nasabah tidak akan dikenakan biaya penggantian kartu. Biayanya biasa saja tidak ada penambahan dari biaya bulanan," ujar dia.

Adapun migrasi dari pita magnetik ke chip, Mandiri harus menambah biaya Rp7.000 untuk setiap kartu. Tri mengklaim selama ini belum ada keluhan dari konsumen dengan teknologi chip yang digunakan Mandiri. "Risiko operasionalnya lebih termitigasi. Konsumen lebih aman. Kalau aman, konsumen juga percaya diri dengan transaksi di kami," ujar dia.

Sedangkan kartu dengan pita magnetik memang diakui Bank Mandiri memiliki kelemahan. "Selain 'skimming', pita magnetik jika ingat tahun lalu, rentan juga dengan gesek ganda yang akhirnya data nasabah juga bocor?" tambah Sekretaris Bank Mandiri Rohan Hafas.

BI meminta perbankan mempercepat migrasi kartu ATM/debit dari teknologi pita magnetik ke teknologi chip. Hal itu karena chip memiliki standar keamanan lebih tinggi. Bank Sentral meminta percepatan itu setelah terjadinya kasus "skimming" data nasabah BRI di Kediri, Jawa Timur.

Deputi Direktur Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Eva Aderia mengatakan, salah satu caranya dengan mengubah sistem data di kartu ATM dari magnetic stripe menjadi chip. "Kita mendorong perbankan melalui ketentuan-ketentuan yang kami keluarkan untuk memberikan pengamanan baik di penggunaan transaksi menggunakan kartu kredit kartu ATM maupun kartu debit makanya nanti teman-teman bisa melihat bahwa sekarang di kartu itu kami sudah melalui perbankan perbankan sudah mengeluarkan kartu ATM atau debit yang menggunakan chip," kata dia

Dalam kesempatan sebelumnya, Senior Executive Vice President Information Technology and Digital Banking BNI Dadang Setiabudi menjelaskan tujuan dari penggantian kartu debit/ATM dari magnetic stripe menjadi chip yang paling utama adalah sisi keamanan bertransaksi. “Ini seiring dengan kecanggihan teknologi yang memungkinkan timbulnya fraud. Dari segi keamanan, kartu yang disertai chip lebih aman, karena kartu chip lebih sulit digandakan dibanding kartu yang menggunakan magnetic stripe,” ujar Dadang.

Dia mengungkapkan, selain lebih aman, kartu debit berteknologi chip juga memiliki kapasitas penyimpanan data yang lebih besar serta dapat melakukan pemrosesan transaksi dengan cepat. Sehingga nasabah pun lebih nyaman. Direktur Bank Central Asia (BCA) Santoso Liem menjelaskan jika kartu debit sudah menggunakan chip maka keamanannya akan lebih baik. Chip juga digunakan untuk menghindari terjadinya kejahatan seperti skimming.

"Security pada kartu akan meningkat dan untuk menghindari terjadinya kejahatan seperti skimming atau penyalinan data di kartu magnetik," kata Santoso. Ia menjelaskan, saat ini kartu debit dengan magnetic stripe juga aman, namun harus nasabah juga harus lebih berhati-hati dan waspada. Misalnya saat mengetik nomor PIN agar ditutup dengan tangan. Hal ini agar orang lain tidak bisa mengintip.

Kemudian, nasabah juga harus mengubah nomor PIN secara berkala untuk meminimalisir kejadian pembobolan rekening. "Jangan gunakan tanggal ulang tahun atau mencatat PIN dan menyimpannya di dompet," jelas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini