Image

Penyaluran KUR untuk TKI Masih Rendah, Ini Alasannya

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 09:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 22 320 1876305 penyaluran-kur-untuk-tki-masih-rendah-ini-alasannya-jE6IFuccTk.jpg Ilustrasi Penyaluran KUR untuk TKI (Foto: Koran Sindo)

JAKARTA – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mengakui bahwa realisasi penyaluran KUR Penempatan TKI masih relatif rendah.

Hal ini disebabkan TKI lebih memilih pinjaman dari Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Karena PJTKI selama ini telah membantu memberikan pinjaman kepada para TKI dengan akses lebih mudah, terutama untuk modal awal bagi para TKI di negara tujuan.

”Untuk itu, pemerintah terus berupaya agar Bank Penyalur KUR dapat meningkatkan penyaluran KUR kepada TKI,” kata Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga di Jakarta, kemarin.

 Baca Juga: OJK Bentuk Program Klaster Tingkatkan Volume KUR

Dia menjelaskan, melalui program pembiayaan yang ada, Kementerian Koperasi dan UKM telah memfasilitasi kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk mengakses KUR Penempatan TKI.

Karena KUR Penempatan TKI diberikan kepada penerima KUR dengan jumlah maksimal sebesar Rp25 juta dan suku bunga sebesar 7% efektif per tahun. ”Jangka waktu KUR Penempatan TKI paling lama sama dengan masa kontrak kerja dan tidak melebihi jangka waktu paling lama tiga tahun,” kata Puspayoga.

Pada 2017 telah disalurkan KUR TKI sebesar Rp329,629 miliar untuk 22.663 orang TKI. Sementara untuk tahun 2018 sampai dengan 28 Februari 2018 telah disalurkan KUR sebesar Rp41,574 miliar yang disalurkan kepada 2.793 debitur.

 Baca Juga: Menko Darmin Panggil Wamenkeu hingga Bankir Bahas KUR

Selain itu, pemerintah juga memberikan subsidi bunga untuk KUR Penempatan TKI sebesar 14%. Sedangkan bank penyalur KUR yang telah menyalurkan KUR Penempatan TKI ada tujuh bank, yaitu BRI, Bank Mandiri, BNI, Bank Artha Graha, Bank Maybank, Bank Sinarmas, dan Bank Chinatrust Indonesia (CTBC).

Selain itu, Puspayoga juga mengungkapkan, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dalam program Desa Migran Produktif. Hal ini bertujuan memperlancar penyaluran KUR bagi TKI. ”Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut, kami telah melakukan kegiatan antara lain pelatihan kewirausahaan bagi pasca-TKI di tujuh kabupaten atau kota,” ujarnya.

Di Provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur; Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan di Kabupaten Boyolali, Kabupaten Brebes, Kota Semarang, dan Kabupaten Tegal; dan di Provinsi Sumatera Utara dilaksanakan di Kabupaten Langkat.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, TKI memang masih susah meminjam lewat KUR lantaran tingkat literasi keuangan TKI rendah. ”Selain itu, prosedur untuk mengajukan KUR juga rumit sehingga untuk berangkat keluar negeri, TKI lebih memilih pinjaman dari saudara atau teman dekat,” ujar dia saat dihubungi kemarin.

Dia mengatakan, hal tersebut menjadi penting untuk menyosialisasikan KUR secara masif ke kelompok atau daerah dengan jumlah TKI yang besar. ”Kalau perlu ada regulasi jasa penyalur TKI wajib kerja sama dengan bank penyalur KUR,” kata dia.

Masalah lain soal standarisasi antarbank penyalur KUR berbeda-beda. ”Beda di pusat beda di kantor cabang di daerah. Akhirnya TKI tidak tertarik pinjam KUR,” katanya.

Karena itu, prosedur harus dibuat sangat mudah kalau perlu cuma 1 halaman. Kemudian standarisasi persyaratan KUR juga harus dipantau OJK dan Kemenkop. ”Bank yang tidak sama standarnya dan menyulitkan TKI wajib kena sanksi,” katanya. (Kunthi Fahmar Sandy)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini