nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BBM Satu Harga Dikeluhkan Warga

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 26 Maret 2018 13:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 26 320 1877949 bbm-satu-harga-dikeluhkan-warga-GbupEQfTks.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

PALEMBANG - Penerapan kebijakan bahan bakar minyak (BBM) satu harga yang sudah berlangsung mulai dikeluhkan warga. Salah satunya, warga mengeluhkan minimnya sosialisasi perubahan harga BBM. 

Sejumlah warga yang ditemui di lapangan mengaku belum mengetahui kebijakan BBM satu harga tersebut. Ada beberapa memang yang sudah mendengar kebijakan ini. Namun lagi-lagi tidak mengetahui kapan dimulai dan dampaknya. Ditemui di SPBU Coco di Jalan Dr M Isa, Palembang, salah satu warga yang bernama Ahmad Taufiq Akbar mengaku sangat kaget karena harus membayar BBM jenis pertalite seharga Rp8.000 per liter.

“Ini ada kenaikan tidak ada informasi apa-apa,” tandasnya sambil menunjukkan nota pembelian BBM.

Menurut Taufiq, perubahan harga tanpa sosialisasi ini diyakini berkaitan dengan kebijakan BBM satu harga. “Satu harga bagus, biar adil. Tapi jangan naik dan naiknya itu seharusnya ada informasi pemberitahuan. Malahan kita tahu dengan melihat nota. Kalau tidak minta nota, ya tambah tidak tahu apa-apa,” keluh warga Kompleks Taman Kenten, Palembang, Sumatera Selatan ini.

Hal yang sama juga disampaikan sejumlah warga di Manado, Sulawesi Utara. Iwan Sumual, misalnya, warga yang sedang mengisi BBM di SPBU Paal Dua Kota, Manado, ini juga sempat kaget atas perubahan harga yang mendadak itu. “Tadi saya hanya mengisi seperti biasa Rp150.000. Jadi nggak sempat kepikiran kalau harganya sudah naik,” kata Iwan Sumual. 

Kendaraan roda empat yang dikendarainya selama ini memang selalu diisi dengan BBM jenis pertalite. Menurut Iwan, kenaikan harga ini sudah terjadi kesekian kalinya dan tanpa adanya informasi yang disampaikan kepada masyarakat.

“Setahu saya tadinya Rp7.600, kemudian naik lagi menjadi Rp7.800. Tapi beneran saya tadi nggak tahu kalau sudah naik lagi,” tandasnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan Slamet Widodo, warga Paniki Baru, Minahasa Utara. Dia mengaku tidak mengetahui harga pertalite sudah naik. Dia baru tahu ketika mengisi pertalite untuk sepeda motor yang dikendarainya. 

“Tadi sih sempat kepikiran juga kenapa biasanya penuh kalau mengisi Rp35.000, tapi kok sekarang tidak. Saya kan sudah rutin setiap tiga hari sekali isi karena takut kotorannya naik kalau sudah berkurang,” katanya.

Agus, warga Lembang, Bandung Barat juga mengeluhkan hal yang sama. Saat ditemui seusai mengisi BBM di SPBU 34- 40318 di Jalan Kolmas Sukajaya, Lembang, Agus mengaku pernah mendengar informasi soal penerapan BBM satu harga. Namun dia tidak mengetahui secara teknis dan mekanisme pelaksanaan di lapangan, termasuk kapan kebijakan ini akan diterapkan.

“Pernah dengar, tapi detailnya seperti apa tidak tahu,” tandasnya.

Sahrul yang juga warga Lembang mengaku tidak mengetahui secara persis apa dan kapan pelaksanaan BBM satu harga ini diterapkan. Menurut dia, setiap kali ke SPBU tidak pernah ada sosialisasi atau pengumuman terkait program BBM satu harga. Dia pun cukup terkejut dengan kenaikan harga BBM jenis pertalite yang berlaku mulai kemarin.

“Saya berharap BBM tidak ada kenaikan lagi, apalagi jika mendadak, karena kalau BBM naik imbasnya ke mana-mana,” ujarnya.

Andri, warga Balonggede, Kota Bandung, juga mengatakan tidak tahu kebijakan BBM satu harga yang diterapkan pemerintah. Apalagi suasana SPBU tidak ada yang berbeda. Semua berjalan normal seperti biasa. “Saya nggak tahu kalau ada kebijakan BBM satu harga di seluruh Indonesia,” kata Andri. 

Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito mengungkapkan, keputusan perseroan untuk menaikkan harga pertalite adalah karena harga minyak dunia yang juga mengalami kenaikan beberapa waktu belakangan. Saat ini, menurut dia, harga minyak mentah dunia berada di kisaran USD65 per barel. “Iya, hanya pertalite saja (yang naik). Karena harga minyak mentahnya juga naik,” katanya.

Kenaikan harga jual BBM berkadar research octane number (RON) 90 itu, lanjutnya, sejatinya berbeda-beda di tiap daerah berkisar antara Rp150 hingga Rp200 per liter. “Berbeda tergantung PBBKB di tiap daerah,” paparnya.

Kenaikan harga pertalite terjadi merata di seluruh wilayah pemasaran di Indonesia. Tercatat, harga pertalite di Daerah Istimewa Aceh, naik dari Rp7.800 per liter menjadi Rp8.000 per liter. Di DKI Jakarta, harga pertalite ditetapkan sebesar Rp7.800 per liter dari sebelumnya Rp7.600 per liter.

Di Papua, pertalite kini dibanderol Rp8.000 per liter dari Rp7.800 per liter. Sementara itu di provinsi lainnya berkisar Rp7.800 sampai Rp8.150 per liter. Misalnya di Provinsi Riau, pertalite dibanderol Rp8.150 per liter. Adapun harga pertalite di Provinsi Maluku dan Papua masing-masing menjadi Rp8.000 per liter.

Sebelumnya pada 24 Februari 2018, Pertamina juga menaikkan harga jual beberapa jenis BBM nonsubsidi, antara lain pertamax, pertamax turbo, pertamax racing, dan dexlite. Harga pertamax kini dijual Rp8.900 per liter atau naik Rp300 per liter. Harga pertamax turbo juga naik Rp500 per liter dari sebelumnya Rp9.600 menjadi Rp10.100 per liter. 

(berlian zulkanedi/ cahya sumirat / adi haryanto/ agus warsudi/ sindonews)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini