nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Importir Sebut Biaya Logistik Indonesia Tertinggi di ASEAN

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 03 April 2018 16:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 03 320 1881568 importir-sebut-biaya-logistik-indonesia-tertinggi-di-asean-3mwJxXiEEJ.jpg Pelabuhan. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Para Importir yang tergabung dalam Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mengeluhkan biaya Logisitik yang masih tinggi. Meskipun, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk menekan biaya logistik dengan Dwelling Time.

Ketua GINSI Anthon Sihombing mengatakan, biaya logistik Indonesia relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan, di wilayah Asia Tenggara (ASEAN) biaya logistik Indonesia merupakan yang tertinggi.

"Kita itu cost logistik kita itu termasuk tertinggi di-ASEAN. Kita masih lebih tinggi, bahkan termasuk dengan Vietnam," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Baca Juga: Pengembangan Pusat Logistik Tarik Pengusaha dari Singapura dan Malaysia

Lebih lanjut Anthon mengatakan,, saat ini biaya logistik di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Bahkan dia menyebut, biaya logistik Indonesia mencapai hingga 25-30% dari total nilai barang. "Dwelling Time belum ini selaras, meski sudah di bawah tiga hari tapi cost logistic belum turun," ucapnya.

Menurut Anthon, Pemerintah harus segera mencari cara untuk menurunkan biaya logistik. Pasalnya, jika hal tersebut dibiarkan maka hal tersebut akan mempengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar.

"Seperti di Indonesia 57% bahan baku itu impor, kalau dalam satu tahun Rupiah melemah 10%, berarti harga naik bisa 5%-6%, belum lagi ditambah cost pelabuhan yang tinggi," jelasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan cost logistik di Indonesia masih sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah terlalu lamanya barang yang menginap di Pelabuhan (overstay).

Baca Juga: Waduh, Pembatasan Truk Ganggu Proses Ekspedisi Barang

Meski begitu lanjut Budi dirinya belum mengetahui penyebab mengapa bisa terjadi overstay. Pasalnya dirinya selalu menekankan agar proses bongkar muat tidak lebih dari tiga hari.

Menurut Budi, semakin lama peti kemas menggunakan lapangan penumpukan terminal, maka akan semakin besar pula biaya yang harus dibayarkan. Apalagi jika proses Dwelling Time lebih dari 3 hari.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Kementerian Perhubungan satu hari barang tersebut menginap akan dikenakan biaya Rp448.930, sementara jika dua hari maka biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp448.930 dan jika tiga hari maka biaya yang harus dikeluarkan Rp987.490.

Sementara jika lebih dari tiga hari maka perusahaan harus mengeluarkan biaya Rp1.529.050 dan jika empat hari maka Rp2.067.610 yang harus dibayarkan. Bahkan jika dipendam selama 10 hari maka biaya yang harus dikeluarkan Rp4.670.410.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini