nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dagang AS-China Tekan Ekspor, Ini Penjelasan Mantan Mendag

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 05 April 2018 13:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 05 320 1882463 perang-dagang-as-china-tekan-ekspor-ini-penjelasan-mantan-mendag-iHAvwqvpdE.jpg Foto: Perang Dagang AS-China Tekan Ekspor (Ulfa/Okezone)

JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China dikhawatirkan dapat menekan pertumbuhan ekspor Indonesia yang tengah pulih. Sebab, pasar global masih dirundung ketidakpastian dari berbagai sisi, bukan hanya dari isu perang dagang melainkan juga dari Bank Sentral Amrika Serikat The Federal Reserve yang akan lebih agresif menaikkan tingkat suku bunga.

Pengamat ekonomi yang juga mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, ketidakpastian eksternal akan bertambah. Dia juga menyebut bahwa industri ekspor menjadi salah satu yang akan terancam dengan adanya perang dagang.

"Karena beberapa tahun ini perdagangan membaik ya ekspor kita membaik. Ini (perang dagang) bisa mengganggu," ujarnya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (5/4/2018).

 Baca Juga: China Umumkan Tarif Baru untuk 106 Produk AS

Adapun ekspor Indonesia pada Februari 2018 mencapai angka USD14,10 miliar. Capaian ini mengalami penurunan hingga 3,14% dibandingkan bulan Januari lalu sebesar USD14,46 miliar. Namun dibandingkan dengan Februari 2017 ekspor masih meningkat sebesar 11,76% dari USD12,61 miliar.

Sementara itu, secara kumulatif ekspor (Januari-Februari) tercatat USD28,65 miliar. Capaian ini naik 10,13% dibandingkan tahun sebelumnya mencapai USD26,02 miliar.

Mantan Menteri Pariwisata ini menyebut, Pemerintah juga perlu memperkuat permintaan pasar dalam negeri sebagai tameng dari imbas negatif dari ketidakpastian pasar global.

 Baca Juga: China Berlakukan Tarif Impor 128 Produk AS Hari Ini, Perang Dagang Bergulir

Ketidakpastian tersebut tentunya akan merugikan Indonesia salah satunya menekan Rupiah. "Dengan ketidakpastian itu kita masih beruntung punya pasar dalam negari yang besar. Jadi untuk jaga confidence itu kita perlu dorong hal-hal yang bisa stimulasi permintaan dalam negeri," ujarnya.

Adapun langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan permintaan dalam negeri adalah dengan memberikan stimulus yang dapat meningkatkan permintaan.

"Itu mungkin. Belanja pemerintah yang bisa bantu lapisan terbawah apakah itu dana desa, atau Program Keluarga Harapan (PKH), atau padat karya cash, itu semua sebenarnya bisa dorong konsumsi dari dalam negeri," tutup dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini