6 Fakta Perang Dagang AS-China, Baja Dibalas Anggur yang Berdampak ke Indonesia

Fakhri Rezy, Jurnalis · Sabtu 07 April 2018 20:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 07 20 1883581 6-fakta-perang-dagang-as-china-baja-dibalas-anggur-yang-berdampak-ke-indonesia-qjZYDu5QvV.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis, 8 Maret 2018 secara resmi menandatangani pernyataan untuk mengenakan tarif yang besar atas impor baja dan aluminium. Hal ini membuat China pun tidak tinggal diam.

Sebab, China memberlakukan tarif impor untuk produk Amerika Serikat (AS) seperti daging babi, buah-buahan hingga kacang-kacangan.

Pemberlakukan tarif impor untuk 128 produk AS ini berlaku selang hampir sebulan dari kebijakan tarif impor AS. Hal ini menyebabkan tensi yang cukup tinggi pada perekonomian global.

Oleh sebab itu, Okezone finance merangkum fakta-fakta di balik perang dagang AS-China yang menjadi sorotan dunia. Berikut fakta-faktanya:

1. Perang Dagang Diawali Penetapan Tarif Besar untuk Impor Baja dan Aluminium AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menandatangani pernyataan untuk mengenakan tarif yang besar atas impor baja dan aluminium.

merika Serikat akan mengenakan tarif 25% atas impor baja dan 10% atas impor aluminium, kata Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih. Ia menyatakan bahwa industri baja dan aluminium yang kuat adalah "penting untuk keamanan nasional kita." Tarif akan mulai berlaku dalam waktu 15 hari, dengan pengecualian awal diberikan pada Kanada dan Meksiko sambil menunggu hasil perundingan kembali Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

"Kita akan menunggu dulu (ketentuan) tarif bagi dua negara itu, untuk melihat apakah kita bisa membuat kesepakatan soal NAFTA atau tidak," kata Trump.

2. Balasan dari China Lewat Tarif Impor untuk Produk AS

Perang dagang kembali bergulir. Sebab, China memberlakukan tarif impor untuk produk Amerika Serikat (AS) seperti daging babi, buah-buahan hingga kacang-kacangan.

Pemberlakukan tarif impor untuk 128 produk AS ini berlaku hari ini, Senin (2/4/2018). Demikian seperti dilansir CNBC.

Langkah terbaru pemerintah China ini diumumkan oleh Kementerian Keuangan China dalam sebuah pernyataan pada 1 April 2018. Penerapan tarif impor untuk produk AS adalah pembalasan langsung terhadap tarif impor dan baja yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

Para pejabat China telah memperingatkan selama beberapa minggu terakhir bahwa negara mereka akan mengambil tindakan terhadap AS.

Tercatat, Komisi Tarif Bea Cukai China meningkatkan tingkat tarif pada produk daging babi dan skrap aluminium sebesar 25%.Sementara pengenaan tarif impor 15% untuk 120 produk AS lainnya yang diimpor, dari almond ke apel dan buah beri.

3. Perang Dagang AS-China, Tarif Baja Dibalas Anggur

Ekspor wine (anggur) California yang sedang melonjak ke Tiongkok telah menemui rintangan besar, karena Tiongkok memberlakukan tarif pembalasan pada impor wine AS.

Wente Vineyards, sebuah pabrik atau kilang anggur di Livermore Valley di San Francisco Bay Area di California utara, baru-baru ini menangguhkan pengiriman 5.000 peti wine tujuan Tiongkok.

Sebagian alasannya adalah para importir di Tiongkok lebih suka menunggu dan melihat bagaimana penerapan tarif tersebut, menurut pabrik wine, sekitar satu jam perjalanan dari San Francisco.

Tiongkok diperkirakan akan melampaui Inggris sebagai pasar wine terbesar kedua di dunia pada 2020, didorong oleh kelas menengah yang terus tumbuh dan generasi milenium, dan Tiongkok terbukti menjadi pasar yang menarik karena industri anggur California telah melihat minat yang terus meningkat dari konsumen Tiongkok, kata Patrick.

"Konsumen Tiongkok mempercayai produk Amerika karena kualitasnya bagus," kata Patrick. Namun, dia mengatakan mereka harus menunggu dan melihat apakah konsumen Tiongkok bersedia membayar lebih untuk wine AS.

4. Perang Dagang Berbahaya Bagi Indonesia

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menimbulkan banyak kekhawatiran. Seperti pada pekan lalu saham-saham AS merosot untuk sesi kedua berturut-turut dengan Nasdaq jatuh lebih dari 2,4%, karena investor tertekan oleh rencana Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif pada produk impor dari China.

Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, semua perang dagang dengan negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dengan China tentu dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Saat ini, dampak yang ditimbulkan yaitu tarif baja dan alumunium yang berimplikasi luas karena perang dagang.

"Karena itu ada WTO untuk menghindari perang dagang itu. Tapi kalau terjadi saling membalas, namanya perang dan itu berbahaya kepada perdagangan dunia," kata JK.

JK menambahkan, bagi Indonesia, terjadinya perang dagang antara AS dan China bisa sangat berpengaruh bagi ekspor di Indonesia.

"Pengaruhnya ialah kita kan mengekspor katakanlah dulu raw material iron or (cek lagi) ke China kemudian mereka sekarang harus bikin smelter di sini dan sebagainya atau pabrik di sini, itu bisa pengaruhnya harga turun, bisa juga naik," sambungnya.

5. Investasi Indonesia Terancam Perang Dagang AS-China

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok membawa bola salju bagi iklim investasi di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus waspada terhadap ketegangan dua negara tersebut.

Kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menjelaskan, imbas perang dagang tersebut dirasakan langsung di pasar modal dengan adanya aliran dana asing keluar. Jika tidak waspada, kondisi tersebut tentunya akan berpengaruh negatif kepada investasi di Indonesia.

"Jadi dampak perang dagang ini China dan AS langsung kelihatan di pasar modal dan itu kalau enggak hati-hati itu bisa membola salju, jadi bola salju," ujarnya.

Lembong menyebut dua negara tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan Indonesia. Tiongkok menjadi mitra dagang tujuan ekspor nomor satu Indonesia. Sedangkan AS, memerankan peran penting sebab banyak investasi maupun kerjasama dagang antara Indonesia dan AS. "Jadi ya harus kita cermati betul perkembangan perang dagang Tiongkok AS," ujar dia.

 

6. Indonesia Harus Diversifikasi Ekspor Agar Tak Terpengaruh Perang Dagang

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai penganekaragaman/ diversifikasi negara tujuan ekspor Indonesia, dapat menjadi salah satu kunci agar tidak terpengaruh oleh perang dagang (trade war) yang ingin diciptakan Amerika Serikat.

Menurut Bambang, perang dagang sendiri ditujukan agar menaikkan posisi tawar AS di dalam forum yang melibatkan Negeri Paman Sam tersebut.

"Jadi kuncinya bagi Indonesia bisa 'navigating to the trade war' terutama ya kita harus mendiversifikasikan tujuan ekspor, baik komoditas maupun tujuan. Jadi jangan hanya terpaku pada barang-barang yang ada," kata Bambang.

Selain itu, lanjut Bambang, Indonesia harus menyelesaikan 'pekerjaan rumah' terutama terkait perjanjian perdagangan dengan negara-negara yang sebenarnya berpotensi untuk mengimpor barang dari Indonesia lebih banyak, maksudnya supaya ekspornya lebih dimudahkan," ujar Bambang.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini