nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahas Nuklir, KEIN Undang Kemenkeu hingga Kemendagri

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 09 April 2018 11:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 09 320 1884011 bahas-nuklir-kein-undang-kemenkeu-hingga-kemendagri-smgxYixokE.jpg PLTN. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) akan menggelar focus group discussion (FGD) bersama sejumlah stakeholder untuk membahas pemanfaatan energi nuklir.

Anggota KEIN sekaligus Ketua Kelompok Kerja Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Zulnahar Usman mengatakan, pelaksanaan FGD dengan sejumlah badan dan lembaga pemerintah ini, merupakan hasil kerjasama antara pihaknya dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Pada pertengahan Maret lalu, kedua lembaga negara ini sama-sama bersepakat untuk mendorong pembangunan PLTN, guna menjamin pasokan energi listrik nasional yang ramah terhadap lingkungan dan sustain.

"FGD akan membahas energi nuklir secara komprehensif dan akan diikuti oleh lembaga-lembaga terkait. Rencananya, diskusi akan kami laksanakan pada tanggal 16-18 April 2018 di Denpasar, Bali," kata dia, Senin (9/4/2018).

Baca Juga: Arcandra Tahar Kumpulkan Para Pegiat Nuklir, Bahas Kemungkinan Bangun PLTN

Adapun stakeholder yang akan turut hadir antara lain Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Perekonomian, serta kementerian dan lembaga terkait lainnya.

Menurut Zulnahar, pertemuan dengan Kementerian dan Lembaga terkait nuklir ini diharapkan dapat memberikan masukan yang komprehensif kepada Presiden, sehingga permasalahan Nuklir yang sudah maju-mundur selama tiga dekade dapat segera di putuskan sesuai arahan Presiden pada 12 Januari 2016.

Hasil FGD Nuklir tersebut, akan menjadi Policy Memo KEIN RI kepada Presiden Joko Widodo dalam rangka persiapan Indonesia menjadi negara yang memanfaatkan energi Nuklir.

Sejauh ini, beberapa persiapan juga telah dilakukan pemerintah, antara lain penyelesaian dokumen berupa penilaian multi-kriteria NPP sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Presiden Nomor 22/2017, berjudul Rencana Pengembangan Prototype NPP dan komersialisasi oleh Kemenristek Dikti. Kementeriam ESDM tengah menyusun dokumen peta jalan atau roadmap PLTN yang akan segera dirilis.

Baca Juga: Kaji Tenaga Nuklir, Rusia Incar Babel, Batam, dan Kaltim

Pada November 2017 yang lalu KEIN juga telah melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat untuk mendapatkan masukkan dan dukungan untuk mengembangkan PLTN yang berbahan bakar cair atau yang di sebut Molten Salt Reactor yang di Indonesia lebih popular dengan istilah PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) yang telah beberapa kali dipaparkan kepada Presiden.

Pemilihan PLTN bila ditetapkan di Indonesia diyakini bisa menjamin keberlanjutan dan keamanan pasokan energi listrik, berwawasan lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama batubara.

Bila PLTN tetap ditunda ketergantungan terhadap batubara untuk menjamin pasokan listrik yang continue akan terus berlanjut, sementara energi terbarukan yang continue terbatas pada hydro (air) dan geothermal (panas bumi).

Saat ini, problem utama mandegnya pengembangan PLTN di Indonesia hanya terletak pada penerimaan masyarakat yang masih khawatir dengan keberadaan reaktor. Padahal, pemanfaatan ilmu pengetahuan di bidang ini berkembang sangat cepat, saat ini pun teknologi pembangkit listrik sudah masuk dalam Generasi Keempat.

Di mana, antisipasi kebocoran reaktor lebih canggih ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Sehingga, bencana alam seperti gempa bumi ataupun tsunami dapat dicegah ancaman bahayanya dari kebocoran reaktor.

"Kami berharap dapat memperoleh dukungan dari semua pihak dalam pengembangan energi nuklir sehingga kita mampu memenuhi kebutuhan listrik terutama kalangan industri, apalagi harga listrik dari pembangkit ini sudah terbukti sangat bersaing dengan energi listrik yang berasal dari bahan baku fosil khususnya batubara," kata Zulnahar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini