Pelindo Pangkas Direct Call, Balikpapan-Shanghai Kini Hanya 9 Hari

Amir Sarifudin , Jurnalis · Senin 09 April 2018 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 09 320 1884119 pelindo-pangkas-direct-call-balikpapan-shanghai-kini-hanya-9-hari-xbN2bnzvXh.jpg Pelindo IV (Foto: Amir Syarifuddin/Okezone)

BALIKPAPAN - PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) atau Pelindo, kembali melebarkan sayap dengan melakukan pelepasan ekspor langsung perdana ke Shanghai dari Pelabuhan Kariangau Kontainer Terminal (KKT) Balikpapan. Pelindo IV sebelumnya sukses melakukan ekspor langsung dari beberapa pelabuhan di kawasan Indonesia Timur (KIT), seperti Makassar, Pantoloan, Ambon dan Jayapura.

Deputi Bidang Usaha dan kontruksi Prasarana Kementerian BUMN Ahmad Bambang melepas pelayaran perdana di area pelabuhan didampingi Dirut Pelindo IV Doso Agung. Juga dihadiri Asisten Gubernur Kalimantan Ichwansyah, Perwakilan Gubernur Kalimantan Utara, pejabat daerah Provinsi Kaltim dan Kaltara, serta pejabat di lingkungan PT Pelindo IV dan Plt Wali Kota Rahmad Mas'ud.

Doso Agung mengatakan, ekspor langsung perdana yang dilakukan pada hari ini (Senin), merupakan bagian dari program “International Direct Call” yang sudah dicanangkan Perseroan sejak 5 Desember 2015.

“Ini adalah bagian dari program “International Direct Call”. Kami memang berencana membuka jalur ekspor langsung ke luar negeri dari semua pelabuhan kelolaan yang cukup besar selain Makassar, di antaranya Pelabuhan Pantoloan, Jayapura, Sorong, Ambon dan kali ini dari Balikpapan. Kedepan, kami juga akan membuka jalur ekspor langsung ke pelabuhan kelolaan lainnya,” kata Doso Agung (9/4/2018).

Doso menyebutkan sejumlah keuntungan yang diperoleh pengusaha dengan mengikuti program direct call di Balikpapan.

"Dari Balikpapan Menuju Shanghai dulu 28 hari sekarang maksimal hanya 9 hari. Costnya bisa mengalami penghematan USD300 sampai USD500. yang kedua ada minimumnya, 30-40% kontainer. Balikpapan harus mendorong ke arah sana. Kapal melayani butuh 5 kapal supaya terjadi siklus satu minggu sekali, untuk itu perlu biasa operasional tinggi. Karena itu mendorong direct call" terangnya.

Program ekspor langsung perdana dari Balikpapan ini bekerjasama dengan perusahaan pelayaran asal Hongkong, SITC, menggunakan kapal MV Meratus Tomini dengan rute pelayaran Balikpapan langsung menuju ke Shanghai, China.

Dalam pelayaran langsung perdana ini, komoditas yang diangkut, yaitu Coconut Fiber dan kayu olahan (Plywood).

“Sebelumnya, pada 26 Maret yang lalu P. Kaltim Kariangau Terminal (KKT) sudah melakukan pelayaran ujicoba menggunakan kapal milik SITC, MV Laila,” sebut Doso.

Pihaknya berharap, dengan pelayaran langsung dari Balikpapan ke Shanghai ini dapat merangsang pertumbuhan ekspor non migas khususnya di wilayah Kaltim dan Kaltara, dimana seperti diketahui, kedua provinsi ini memiliki potensi sumber daya alam berkualitas dan layak ekspor.

Pihak PT Pelindo IV dan PT. KKT juga optimis, dengan upaya ekspor langsung ini akan meningkatkan throughput petikemas ekspor maupun impor melalui PT. KKT.

“Tentunya dengan melihat potensi komoditas yang tidak hanya berasal dari Kaltim dan Kaltara, tetapi juga dari Kalimantan Selatan dan provinsi lainnya di Pulau Sulawesi,” tegas Doso.

Apalagi, lanjutnya sudah terbukti bahwa “International Direct Call” dapat memangkas waktu pengiriman barang, yang sebelumnya harus melalui Jakarta dan Surabaya dan yang pasti dapat menurunkan biaya logistik.

Ahmad Bambang Deputi Bidang Usaha dan kontruksi Prasarana Kementerian BUMN menjelaskan ekspor langsung di Kawasan Indonesia Timur terus dikembangkan menyusul komoditi ekspor yang dimiliki daerah memiliki potensi yang besar. Dia menyebutkan direct call akan menekan biaya dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.

“Kita kembangkan wilayah timur dan lagi gencarnya menjadi prioritas. Nanti kalo sudah rutin maka pengiriman cepat akan mengurangi biaya operasional pengiriman,” ujarnya.

Menurutnya, program pemerintah adalah membangun fasilitas selanjut sektor industri atau pelaku dapat memanfaatkannya dengan maksimal. “Pemerintah bangun dulu fasilitas jadi ga ada alasan sektor industri dalam melakukan ekspor. Ini perusahaan pelayaran jadi kita bermitra perusahaan pelayaran yang tersebar seluruh dunia, jadi harus kembalinya juga ada,” pungkas Bambang.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini