ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Asia Menurun di 2018

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 11 April 2018 14:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 11 213 1885162 adb-proyeksikan-pertumbuhan-ekonomi-asia-menurun-di-2018-ttoCRRr5rj.jpg Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2018 di Asia dan Pasifik akan mencapai 6,0% atau turun dibandingkan 2017 sebesar 6,1%. Sedangkan untuk proyeksi PDB 2019 sebesar 5,9%.

Wakil Kepala Perwakilan Asian Development Bank (ADB) Indonesia Sona Shrestha menyatakan, secara keseluruhan proyeksi pertumbuhan kawasan ini dalam posisi yang baik. "Berbagai perekonomian di kawasan Asia sedang berkembang akan mempertahankan momentum pertumbuhan saat ini yang didorong oleh kebijakan yang baik, ekspor yang meningkat, dan permintaan domestik yang kuat," ujar dia di Kantor ADB, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Dia menjelaskan, Asia Tenggara masih terus memperoleh manfaat dari meningkatnya perdagangan dunia dan membaiknya harga komoditas. Sub-kawasan ini diperkirakan akan mempertahankan tingkat pertumbuhan 5,2% yang dicapai pada 2017 hingga 2018 dan 2019. 

"Investasi dan konsumsi domestik yang kuat akan mendorong percepatan pertumbuhan Indonesia, Filipina, dan Thailand, sementara ekspansi basis industri akan mendongkrak pertumbuhan Vietnam," ujarnya.  

Baca Juga : Prospek Ekonomi Global Membaik

Sementara itu, ADB memproyeksikan konsumen Asia dan kenaikan harga komoditas akan mendorong peningkatan inflasi di kawasan ini. Inflasi harga konsumen regional diproyeksikan naik menjadi 2,9% pada 2018 dan 2019 atau naik dari periode 2017 sebesar 2,3%

Namun, proyeksi inflasi untuk 2 tahun ke depan masih jauh di bawah rata-rata 10 tahun regional yang sebesar 3,7%. 

Di sisi lain, pertumbuhan di Asia Selatan masih salah satu yang tercepat di dunia, didorong oleh pemulihan di India, perekonomian terbesar di kawasan ini.

Pertumbuhan India diperkirakan akan naik ke 7,3% pada tahun fiskal 2018 dan 7,6% pada tahun fiskal 2019, menyusui perkiraan pertumbuhan 6,6% pada tahun fiskal 2017. Dampak dari demonetisasi uang kertas, pecahan besar mulai mereda dan implementasi penuh pajak barang dan jasa akan mendukung pertumbuhan hingga 2019. 

"Pertumbuhan di Asia Tengah diperkirakan mencapai 4,0% pada 2018 dan 4,2% pada 2019 berkat kenaikan harga komoditas," jelasnya.

Adapun pertumbuhan negara-negara di kawasan Pasifik akan mencapai 2,2% dan 3,0% selama dua tahun ke depan seiring perekonomian terbesar di kawasan ini, Papua Nugini, mulai stabil selepas gempa bumi yang menimbulkan gangguan sementara terhadap produksi gas. 

Kendati demikian, risiko terhadap proyeksi ini, dikatakannya, lebih berat pada penurunan, terutama didorong oleh kekhawatiran memburuknya ketegangan dalam perdagangan antara China dan Amerika Serikat.  

Baca Juga : Bos IMF Tak Luput Ingatkan Indonesia soal Ketidakpastian Ekonomi Dunia

"Ketentuan tarif baru oleh Amerika Serikat terhadap produk tertentu belum sampai mengganggu perdagangan, tetapi tindakan lanjutan oleh AS serta balasan atas tindakan tersebut dapat merusak keyakinan dunia usaha dan konsumen di Asia dan Pasifik," ujarnya.

Selain itu, tingkat suku bunga Asia yang lebih tinggi dapat mempercepat aliran modal keluar, meskipun risiko ini agak diringankan oleh melimpahnya likuiditas di kawasan ini. 

"Untungnya, sebagian besar perekonomian di Asia berada di posisi yang cukup kuat untuk mengatasi tantangan tersebut," pungkasnya. 

 (feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini