nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPS Rilis Neraca Perdagangan Maret 2018, Diprediksi Defisit

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 16 April 2018 09:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 16 20 1887082 bps-rilis-neraca-perdagangan-maret-2018-diprediksi-defisit-95zv4nMX45.jpg Ilustrasi (Foto: Ant)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis neraca perdagangan selama Maret 2018, siang ini. Pada tiga bulan terakhir nerca perdagangan selalu defisit, seperti Febuari tercatat defisit USD120 juta.

Pengamat Ekonomi Infef Bhima mengatakan, dampak negatif permintaan terhadap dolar akan meningkat untuk kebutuhan impor, nilai tukar Rupiah otomatis cenderung melemah. Kemudian, CAD atau defisit transaksi berjalan semakin lebar, dengan angka 2,1-2,2% terhadap PDB.

Baca juga: Mantan Mendag Soroti Defisit Neraca Perdagangan Selama 3 Bulan

"Proyeksi neraca perdagangan Maret masih defisit dikisaran USD50-70 juta. Defisitnya cenderung mengecil karena faktor musiman ekspor bulan Maret-April biasanya meningkat seiring normalisasi produksi di negara tujuan ekspor seperti China, AS, India dan Eropa. Permintaan bahan baku dari Indonesia diharapkan membaik," tuturnya kepada Okezone.

Meskipun kinerja ekspor diperkirakan membaik tapi dari sisi impor akan terjadi lonjakan khususnya impor migas. Naiknya kebutuhan domestik terhadap BBM dan disisi yang lain tren kenaikan harga minyak dunia akan membuat impor migas melanjutkan tren kenaikan.

 Baca juga: Indo Premier Siapkan Pendamping untuk Investor Saham Pemula

Sebelumnya, BPS mencatat ekspor Februari 2018 mencapai angka sebesar USD14,10 miliar. Capaian ini mengalami penurunan hingga 3,14% dibandingkan bulan Januari lalu sebesar USD14,46 miliar. Namun dibandingkan dengan Februari 2017 ekspor masih meningkat sebesar 11,76% dari USD12,61 miliar.

Sementara itu, ekspor meningkat 5,08% dari USD1,32 miliar menjadi USD1,39 miliar (mtm) dan ekspor nonmigas menurun 3,96% dari USD13,23 milar menjadi USD12,71 miliar (mtm). Nilai ekspor Februari menurut sektor untuk pertanian mencapai USD240 juta, industri pengolahan mencapai USD10,2 miliar dan pertambangan serta lainnya mencapai USD2,27 miliar. Ekspor nonmigas masih menyumbang 90,13% dari total ekspor Februari 2018.

 Baca juga: Meski Laba Terkoreksi, BTPN Tetap Bagikan Dividen Rp100 per Saham

"Salah satu jenis tambang penurunan paling besar dalam batu bara, harga turun dan volume turun sehingga menarik ekspor tambang dan lainnya kebawah," jelas Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.

Sementara itu, secara kumulatif ekspor (Januari-Februari) tercatat USD28,65 miliar. Capaian ini naik 10,13% dibandingkan tahun sebelumnya mencapai USD26,02 miliar. Sementara ekspor nonmigas secara kumulatif tercatat USD25,94 miliar atau naik 10,15% dibandingkan tahun sebelumnya USD23,55 miliar.

"Share ekspor nonmigas terbesar adalah bahan bakar mineral USD3,94 miliar dan lemak nabatai sebesar USD3,46 miliar," jelasnya.

BPS mencatat sepanjang Februari 2018, impor Indonesia mencapai USD14,21 miliar. Capaian ini mengalami penurunan 7,16% dibandingkan dengan Januari 2018. Jika dilihat secara year on year (yoy) maka impor mengalami kenaikan sebesar 25,18% dari USD11,35 miliar. Adapun impr migas naik tipis 0,06% dari Januari 2018 (mtm) menjadi USD2,26 miliar. Sedangkan impor nonmigas turun 8,14% menjadi USD11,95 miliar.

Sementara itu, secara kumulatif, total impor dari Januari-Februari 2018 tercatat USD29,52 miliar atau naik 26,58 dibandingkan tahun lalu hanya USD23,32 miliar. Sedangkan impor nonmigas naik 31,44% menjadi USD25 miliar dari USD19,02 miliar.

"Impor nonmigas terbesar Januari-Februari dari mesin-mesin pesawat USD4,12 miliar dan peralatan listrik capai USD3,59 miliar," tukasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini