Image

Penerbitan Surat Utang pada 2018 Diprediksi Lebih Tinggi Dibanding Tahun Lalu

Agregasi Senin 16 April 2018 14:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 16 278 1887235 penerbitan-surat-utang-pada-2018-diprediksi-lebih-tinggi-dibanding-tahun-lalu-CfiB3exvPb.jpg Penerbitan surat utang tahun ini diprediksi tinggi (foto: Ilustrasi/Shutterstock)

JAKARTA – Naiknya peringkat surat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service dengan prospek positif dari Baa3 menjadi Baa2 mendorong minat perusahaan untuk menerbitkan surat utang sebagai sumber pendanaan cukup tinggi. Alhasil, kondisi ini memberikan berkah tersendiri bagi Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang kebanjiran pemeringkat obligasi.

Menurut analis Pefindo, Hendro Utomo, penerbitan emisi surat utang pada tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2017. Pasalnya, surat utang yang mengalami jatuh tempo pada tahun 2018 mencapai Rp60 triliun dan seperti biasa, utang jatuh tempo itu akan dilunasi dengan cara penerbitan surat utang atau refinancing.

“Apalagi, kemarin Moody’s telah meningkatkan peringkat sovereign credit rating (SCR) Indonesia sehingga memberi peluang untuk mendapatkan tingkat bunga yang lebih baik,” katanya di Jakarta, kemarin.

Untuk diketahui, sampai Maret 2018, surat utang yang telah diterbitkan mencapai Rp38.67 triliun oleh 27 perusahaan nasional. Lebih rincinya, 11 perusahaan keuangan dengan nilai Rp16,6 triliun, empat bank senilai Rp9,4 triliun, dua perusahaan konstruksi senilai Rp3,55 triliun, tiga perusahaan bubur kertas senilai Rp3,3 triliun, satu perusahaan listrik senilai Rp3,23 triliun. Sementara itu, lanjut Hendro, sampai tanggal 12 April 2018 Pefindo telah menerima mandat untuk melakukan pemeringkatan efek dari 55 perusahaan, dengan surat utang senilai Rp82,57 triliun.“Jadi masih ada Rp82,5 triliun yang belum diterbitkan,” kata dia.

Uniknya, dari surat utang yang belum diterbitkan itu, dua perusahaan listrik unggul dari sisi nilai yang terbitkan atau senilai Rp24 triliun, disusul 14 perusahaan pembiayaan senilai 14,7 triliun dan tujuh bank senilai Rp10,33 triliun. Minat penerbitan obligasi tergolong tinggi dari delapan perusahaan kertas yang berencana menerbitkan senilai Rp8 triliun, lima perusahaan konstruksi senilai Rp7,2 triliun, enam perusahaan perkebunan senilai Rp6,95 triliun, tiga perusahaan telekomunikasi senilai Rp3,75 triliun, satu perusahaan tambang senilai Rp1,379 triliun, dua perusahaan transportasi senilai Rp 1,3 triliun dan satu perusahaan pengemasan senilai Rp1 triliun.

Tahun ini, Pefindo memprediksi pasar obligasi korporasi akan terus tumbuh hingga mencapai Rp158 triliun pada 2018. Penerbitan bisa sebesar Rp158 triliun dengan asumsi ekonomi tumbuh 5,2%, inflasi dan tingkat suku bunga tetap rendah.

Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra pernah bilang, masih menariknya pasar obligasi karena bunga yang rendah serta dengan sudah disematkan peringkat investment grade. ”Kondisi tersebut dapat mendorong sejumlah perusahaan untuk berlomba dalam mengakses pendanaan melalui pasar modal," ujarnya.

Dia menjelaskan, obligasi korporasi akan lebih banyak diterbitkan oleh perbankan dan perusahaan pembiayaan yang memandang pendanaan dari sektor riil masih belum berkembang. Sementara, terbatasnya permintaan obligasi korporasi daripada obligasi pemerintah karena belum bisa menarik investor secara maksimal. ”Sisi peringkat belum menjanjikan. Tetapi, ada harapan menyusul investment grade dari Fitch rating," jelasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini