Di Depan Bos Emiten, SKK Migas Beberkan Penurunan Produksi Minyak

Ulfa Arieza, Jurnalis · Senin 16 April 2018 11:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 16 320 1887140 di-depan-bos-emiten-skk-migas-beberkan-penurunan-produksi-minyak-P5KyYNtsBx.jpg Foto: Emiten Migas di BEI (Ulfa/Okezone)

JAKARTA - Produksi minyak mentah (crude) Indonesia terus menurun. Di sisi lain, konsumsinya terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan adanya gap antara produksi dan konsumsi minyak mentah Indonesia.

Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Arief Setiawan Handoko menyebut kondisi saat ini sangat berbanding terbalik dengan posisi produksi dan konsumsi minyak pada puluhan tahun silam. Di mana, Indonesia masih memiliki cadangan yang surplus hingga dapat melakukan ekspor.

"Kita punya gap yang cukup besar jadi per Maret 2018 kita masih punya gap di mana produksi kita yang dulu pernah mencapai 1,7 juta barel per day kira-kira di tahun 1974 kemudian turun sekarang cuma sampai 800 ribu barel. Kalau dari sisi konsumsi, konsumsi kita naik terus," ujarnya dalam acara Dialog Emiten Kebijakan Hulu Migas untuk Mendongkrak Investasi di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (16/4/2018).

 

Arief memaparkan, posisi produksi dan konsumsi minyak mentah Indonesia mulai imbang pada 2002. Kala itu, produksi minyak mentah hanya bisa memenuhi konsumsi dalam negeri.

Makin ke sini, kata dia, cadangan minyak mentah tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan konsumsi sehingga terpaksa Indonesia harus melakukan impor. Ironisnya, impor yang dilakukan tidak hanya dalam bentuk minyak mentah akan tetapi juga produk jadi.

"Sekarang gapnya makin besar. Artinya di sini kurangnya crude yang akan kita proses jadi bahan bakar minyak, kita harus impor, karena impor, maka ini jadi beban bagi negara. Tidak hanya crude tapi barang jadi juga, untuk produknya tentunya ini jadi beban bagi APBN kita," kata dia.

Oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan adalah menambah kegiatan eksplorasi dalam negeri dengan tujuan meningkatkan cadangan minyak dalam negeri. Arief menyebut, Indonesia masih memiliki potensi bagi sektor hulu migas.

Dalam hal ini, pemerintah juga berupaya mendorong investasi pada sisi eksplorasi dengan berbagai bentuk insentif bagi investor. Salah satunya adalah dengan memangkas regulasi yang berkaitan dengan sektor energi untuk memudahkan investasi.

Adapun dari 128 cekungan atau basin yang potensial, saat ini baru 18 yang produksi.

"Jadi kalau lihat potensi yang ada hulu migas tentunya masih punya peluang besar," tukas dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini