Image

Menko Darmin Curhat soal Banjir Sejak Zaman VOC di Depan Menteri ATR dan Bappenas

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 16 April 2018 14:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 16 320 1887246 menko-darmin-curhat-soal-banjir-sejak-zaman-voc-di-depan-menteri-atr-dan-bappenas-djRERQB9bQ.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional mengadakan konsultasi Publik Rencana Tata Ruang (ATR) kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabotabekpunjur). Acara tersebut dibuka langsung oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution

Turut hadir dalam kegiatan ini Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan Djalil dan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro. Selain itu hadir pula perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

 Baca juga: Antisipasi Banjir, PLN Disjaya: Kita Sudah Tinggikan 113 Gardu Listrik

Dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memberikan curahan hatinya kepada seluruh stekholder yang bersangkutan terkait masalah banjir yang sering terjadi di berbagai daerah khususnya daerah Jabodetabek. Dirinya menyebut masalah banjir di kawasan tersebut sudah sering terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.

Sebagai salah satu contohnya, banjir dengan skala besar yang terjadi pada tahun 1699. Banjir tersebut terjadi ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) berdiri di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Tak hanya itu, banjir juga kembali terjadi pada 1714 masih dalam periode penjajahan, artinya permasalahan banjir sudah sering terjadi di Indonesia.

 Baca juga: Hadirnya Jawa Bali Crosing, Bali Akan jadi Produsen Listrik

"Kemudian tahun 1714 (baru terjadi lagi). Lama kan. (Selang) 30 sekian tahun. Kemudian 1854. kemudian 1918, 1996, kemudian makin sering. 2002, 2007, 2008, 2013," ujarnya saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Bahkan lanjut Darmin, dalam beberapa tahun belakangan banjir menjadi lebih sering terjadi, karena peningkatan debit sungai. Hal tersebut diakibatkan perubahan kondisi hulu dan sedimentasi yang mengurangi kapasitas penampungan aliran sungai.

"Timbulnya slump area mencapai 891.963 RT pada 2013. Kalau 2018 pasti ceritanya lain lagi," kata Darmin.

Menurutnya, permasalahan banjir juga tidak terlepas dari sistem pengelolaan limbah yang buruk. Salah satu contohnya adalah bagaimana banyaknya limbah di sungai Citarum.

"Citarum bagian dari persoalan besarnya. Seiring jalannya waktu dibarengi pertumbuhan penduduk kontaminasi air pada sungai dapat memburuk kalau tidak diimbangi tindakan yang tepat," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini