Image

Peringkat Utang RI Naik hingga Kawasan Jabodetabek Punjur Ditata Ulang

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 06:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 16 320 1887262 peringkat-utang-ri-naik-hingga-kawasan-jabodetabek-punjur-ditata-ulang-8cpSbQvfSQ.jpg Peringkat utang RI membaik (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah harus cepat membenahi layanan investasi seiring dinaikkannya peringkat utang oleh Moody's Investor Service (Moodys). Momen ini diharapkan mendorong arus investasi ke dalam negeri baik dalam bentuk portofolio di pasar keuangan maupun sektor riil sehingga menggerakkan perekonomian.

Sementara itu, Pengelola Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, PT Angkasa Pura II (AP), menargetkan pembangunan runway tiga tahap pertama (section 1) selesai pada pertengahan tahun 2019.

Di sisi lain, pemerintah berencana melakukan penataan tata ruang kawasan Jabodetabek Punjur (Puncak Cianjur). Rencana penataan dimulai dengan diselenggarakannya Konsultasi Publik tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Jabodetabek Punjur.

Ketiga berita tersebut menjadi berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal Okezone Finance. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

Peringkat Utang Naik, Saatnya Proaktif Sambut Investasi

Dengan perbaikan rating utang ke level Baa2 oleh Moodys, kini Indonesia telah diakui oleh empat lembaga pemeringkat internasional berada pada satu tingkat lebih tinggi dari level investment grade terdahulu.

Sebelumnya Fitch Ra tings meng-upgrade rating utang dari sebelumnya BBB- menjadi BBB, Standard and Poor's (S&P) dari sebelumnya BB+ menjadi BBB-, dan Rating and Investment Information (R&I) dari BBB- (Outlook Positif) menjadi BBB (Outlook Stabil).

Khusus untuk pemberian rating terbaru dari Moody's, peringkat tersebut adalah level tertinggi yang pernah dicapai oleh Indonesia.

“Dalam hal ini pemerintah harus lebih proaktif. Segera fasilitasi ketika para investor menanyakan mitra lokal yang bisa di ajak bekerja sama. Pengetahuan tentang peluang investasi di Indonesia juga masih menjadi masalah. Ini yang krusial harus dibenahi demi iklim investasi,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro di Jakarta kemarin.

Pada Jumat (13/4) lalu Moody's meningkatkan sovereign credit rating (SCR) In donesia dari semula Baa3 dengan outlook positif menjadi Baa2 dengan outlook stabil.

Dalam siaran persnya Moody's menyatakan faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut adalah kerangka kebijakan yang kredibel dan efektif yang dinilai kondusif bagi stabilitas makroekonomi.

Menurut lembaga pemeringkat internasional tersebut, meningkatnya cadangan devisa dan penerapan kebijakan fiskal serta moneter yang berhati-hati memperkuat ketahanan dan kapasitas Indonesia dalam meng hadapi gejolak eksternal.

Di sisi fiskal, pemerintah dinilai mam pu menjaga fiskal defisit di bawah batas 3% sejak diberlakukan pada 2003. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo me ngatakan, defisit yang dapat di pertahankan di level rendah yang didukung pembiayaan bersifat jangka panjang dapat menjaga beban utang tetap rendah sehingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan.

Di sisi moneter, menurut dia, BI telah menunjukkan rekam jejak dalam memprioritaskan stabilitas makroekonomi.

Penerapan kebijakan nilai tukar fleksibel dan koordinasi kebijakan yang lebih efektif antara bank sentral dengan pemerintah pusat dan daerah dinilai mampu menjaga inflasi di level yang cukup rendah dan stabil.

“BI juga semakin aktif menggunakan instrumen makroprudensial dalam menghadapi gejolak,” ujarnya.

Menurut Agus, pencapaian ini merupakan suatu prestasi besar di tengah masih berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi perkembangan ekonomi di kawasan.

Sambut 114 Pesawat, Proyek Runway 3 Bandara Soetta Selesai 2019

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pihaknya akan terus mendukung PT AP II untuk mencapai pembangunan runway tiga tersebut dalam menyambut 114 pergerakan pesawat pada dua tahun ke depan.

”Tentu kita akan terus mendukung perwujudan runway tiga ini, mengingat kepadatannya yang sudah begitu besar bisa mencapai 70 hingga 80 pergerakan pesawat hanya dengan dua riwayat yang eksis saat ini,” kata Menhub Budi Karya saat meninjau pembangunan runway tiga dan taxiway yang berada di sebelah timur bandara di Tangerang, kemarin.

Baca Juga: Bandara Soekarno Hatta Dikembangkan, Pergerakan Pesawat akan Meningkat

Dia menambahkan, dengan pergerakan pesawat di runway tiga nanti sekaligus bisa menambah kapasitas pesawat di bandara tersibuk di Indonesia ini.

”Saya kira progresnya baiksehinggaapa-apa yang dibutuhkan, terutama berkaitan dengan regulasi akan kita back up,” ujarnya.

Pembangunan runway tiga Bandara Soetta dibangun dengan investasi total AP II senilai Rp2,6 triliun. Pembangunannya dilakukan bertahap dan membutuhkan lahan seluas 216 hektare. Sedangkan per April 2018, PT AP II telah memiliki lahan seluas 115 hektare sehingga masih diperlukan lahan 101 hektare lagi.

Baca Juga: AP II Siap Bangun Terminal 4 Bandara Soekarno Hatta

Presiden Direktur PTAP II, Muhammad Awaluddin mengatakan, sisa lahan yang akan dibutuhkan tersebut ditarget bisa bebas pada September 2018.

”Tanah yang dibebaskan mencakup wilayah Kota Tangerang, yakni Kelurahan Selapajang Jaya dan Kelurahan Benda serta wilayah Kabupaten Tangerang, yaitu Desa Bojong Renged, Desa Rawa Burung, dan Desa Rawa Rengas,” ungkapnya.

Menurut dia, dibangunnya runway ketiga, AP II akan mendapatkan keuntungan aircraft movement jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 114 pergerakan take-off dan landing per jamnya. Hal ini tentu akan ditunjang dengan adanya east cross taxiway karena pergerakan pesawat antara runway utara dan runway selatan menjadi lebih efisien.

Apa Alasan Menko Darmin Menata Ulang Kawasan Jabodetabek Punjur?

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan penataan perlu dilakukan mengingat Kawasan Jabodetabek Punjur (Puncak Cianjur) merupakan kawasan perkotaan yang memiliki peran sangat penting dalam perekonomian nasional. Bagaimana tidak, kawasan Jabodetabek Punjur menyumbang hampir 19,93% dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) nasional.

Baca Juga: Bangun Kota dengan Teknologi Geolistrik

"Sejak lama pemerintah memberikan perhatian sangat khusus pada kawasan Jabodetabek Punjur atau kawasan metropolitan. Jabodetabek Punjur memiliki peran sangat penting di Indonesia dan di bidang ekonomi aja kawasan ini menyumbang 19,9% dari total PDRB nasional," ujarnya dalam acara diskusi publik di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Menurut Darmin, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi secara otomatis memiliki konsekuensi pada tingginya aglomerasi penduduk. Bahkan menurut Darmin, pertumbuhan penduduk di kawasan ini mencapai 2,9% per tahun, sementara jumlah penduduk kurang lebih 32 juta jiwa pada tahun 2015.

"Sebagai pusat kegiatan ekonomi Jabodebek Punjur memiliki daya tarik penduduk untuk migrasi ke wilayah tersebut membuat laju pertumbuhan jumlah penduduk sangat tinggi. Jumlah penduduk di kawasan ini 22 juta jiwa pada 2012, dan sekarang 32 juta jiwa," jelasnya.

Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada peningkatan akan kebutuhan ruang untuk tempat tinggal, tempat kegiatan usaha, dan infrastruktur. Implikasi dari hal tersebut adalah konversi lahan dari lahan non-terbangun menjadi lahan terbangun.

Baca Juga: 10 Kota Terkaya di Dunia, San Jose Urutan Pertama

"Ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan ruang atau tempat tinggal, tempat usaha dan infrastruktur tentu saja baik jalan, terminal, bandara, pelabuhan, jaringan air bersih, air limbah, pembangkit listrik dan sebagainya. Sementara daya dukung lahan terbatas sehingga timbul berbagai permasalahan. Misal secara umum konversi lahan tidak terbangun menjadi terbangun antara 2012-2015 sebesar 48% dan untuk konversi lahan pertanian jadi lahan terbangun 24,3%," jelasnya.

Oleh karena itu lanjut Darmin, perlu dilakukan kajian ulang untuk penataan kawasan tersebut apalagi mengingat daya dukung lingkungan di kawasan Jabodetabek Punjur telah terlampau. Sehingga permasalahan-permasalahan seperti bencana banjir, longsor, penurunan muka tanah serta instruksi air laut di wilayah pesisir selai itu, kemacetan lalu lintas juga menjadi isu yang tidak dapat dihindari.

"Pagi hari ini dan nanti diberikan kesempatan untuk membahas masalah yang sangat penting. Kita hidup di sini juga adalah kita bukan hanya sekedar menganalisis persoalan ini. Ini adalah bagian hidup kita juga bahwa memang Peraturan Presiden (Perpres) 54/2008 tentang penataan ruang kawasan Jabodetabek Punjur pada hari ini dilakukan konsultasi publik," jelasnya.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini