nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harga Minyak Turun Pasca-Konflik Suriah Mereda

ant, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 07:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 17 320 1887553 harga-minyak-turun-pasca-konflik-suriah-mereda-l2ai57rJg7.jpg Ilustrasi: Harga Minyak Turun (Foto: Shutterstock)

NEW YORK - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena kekhawatiran investor tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berkurang setelah serangan udara di Suriah selama akhir pekan lalu.

Amerika Serikat, Prancis dan Inggris meluncurkan 105 rudal pada Sabtu 14 April 2018 dini hari, menargetkan apa yang mereka katakan adalah tiga fasilitas senjata kimia di Suriah sebagai pembalasan atas dugaan serangan gas beracun pada 7 April.

 Baca Juga: Wall Street Merangkak Naik Usai Konflik Suriah Mereda

Harga minyak telah meningkat hampir 10% menjelang serangan, karena para investor mengumpulkan banyak aset-aset seperti emas atau surat utang pemerintah AS, yang dapat berlindung dari risiko-risiko geopolitik.

"Penurunan kekhawatiran atas Suriah adalah berita utama yang menurunkannya," kata ahli strategi pasar senior RJO Futures, Phil Streible di Chicago. Karena serangan itu lebih bersifat operasi daripada yang diantisipasi dalam skenario yang lebih ekstrim, pasar telah mengabaikan faktor-faktor bullish, katanya.

 

"Minyak memiliki punya segalanya yang mungkin meningkatkanya: dolar yang lemah, Suriah, potensi sanksi, ketidakpastian Gedung Putih, perdagangan Tiongkok," katanya.

Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, turun USD1,17 menjadi menetap di USD66,22 per barel di New York Mercantile Exchange.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Terdorong Laporan OPEC

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni berkurang USD1,16, menjadi ditutup pada USD71,42 per barel di London ICE Futures Exchange.

"Sejauh menyangkut perkembangan di Suriah, pasar telah memiliki rasa lega dalam arti bahwa tidak ada eskalasi, baik secara diplomatis, atau di lapangan, menyusul intervensi oleh AS, Prancis dan Inggris," kata kepala strategi pasar komoditas global BNP Paribas, Harry Tchilinguirian.

"Sebagai aset-alokator makro, jika Anda ingin melakukan lindung nilai portofolio Anda terhadap risiko-risiko geopolitik, kandidat utama Anda adalah minyak, terutama jika risiko itu di Timur Tengah." Meskipun Suriah sendiri bukan produsen minyak yang signifikan, Timur Tengah yang lebih luas adalah eksportir minyak mentah dunia yang paling penting, dan ketegangan di kawasan ini cenderung menempatkan pasar minyak dalam kecemasan.

"Investor terus khawatir tentang dampak dari konflik yang lebih luas di Timur Tengah," kata bank ANZ.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini