Image

BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,25%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 19 April 2018 19:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 19 20 1888962 bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-4-25-T5cU0sxYiC.jpg Bank Indonesia. Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18 April-22 April 2018 memutuskan untuk mempertahankan 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Day RR Rate) di level 4,25%.

Dengan demikian ini menjadi bulan keempat di tahun 2018 Bank Sentral menahan suku bunga acuannya.

Adapun suku bunga Deposit Facility (DF) tetap pada level 3,5% dan Lending Facility (LF) pada level 5%, berlaku efektif sejak 20 April 2018.

Baca Juga: BI Minta Aturan Batas Maksimum Transaksi Tunai Tak Hambat Perekonomian

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 18-19 April 2018 memutuskan untuk tetap mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,25%" ujar Deputi Gubernur Dody Budi Waluyo di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Ditahannya suku bunga ini memang sudah diprediksi oleh ekonom. Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, kebijakan menahan suku bunga acuan dipengaruhi ekspetasi kenaikan Fed Fund Red (FFR) sebesar 25 bps pada Mei nanti, melanjutkan pengetatan moneter sebelumnya. 

Jempol 2 Dody Budi Waluyo Usai Dilantik Jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia

Kebijakan The Fed ini berpengaruh terhadap naiknya yield (imbal hasil) surat utang dan sentimen investor untuk mengalihkan uangnya ke aset dengan return yang lebih besar. 

"Potensi pelemahan nilai tukar Rupiah pada bulan Mei harus diantisipasi BI," ujar Bhima kepada Okezone. 

Selain itu, gejolak geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Suriah serta ketidakpastian perang dagang AS-China akan jadi pertimbangan BI. Sebab, hal ini dapat menganggu kinerja perekonomian domestik khususnya sisi ekspor.

Baca Juga: BI Dongkrak UMKM dan Ekonomi Syariah Batam

Faktor lainnya, harga minyak dunia diperkirakan akan naik hingga USD75 per barel pada bulan Mei, dari harga saat ini yang berada di kisaran USD70-USD72 per barel. 

"Kenaikan harga minyak mentah mempengaruhi inflasi dari sisi administered price terutama harga BBM non subsidi," jelasnya. 

Sementara, dari faktor domestik, tingkat inflasi jelang Ramadhan menjadi pertimbangan penting untuk menahan suku bunga acuan.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional beberapa komoditas seperti bawang merah mengalami kenaikan harga 32,6% (mtm), daging ayam naik 4,8%, bawang putih naik 1,19% dan daging sapi tercatat naik 0,04%. 

"Inflasi volatile food terutama jelang Ramadhan perlu mendapat perhatian utama," ujarnya.

Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS

Di pasar keuangan, pada kuartal-II 2018 beberapa emiten akan membagikan dividen yang membuat permintaan Dolar meningkat. Ini akan berpengaruh langsung ke defisit transaksi berjalan yang cenderung melebar mengikuti faktor seasonal.

Di sisi lain, intermediasi perbankan menurutnya mengalami perlambatan. Hal ini terlihat dari penurunan tipis bunga kredit perbankan untuk kredit modal kerja (KMK) yakni sebesar 3 bps menjadi 11,78%, sedangkan kredit konsumsi turun 8 bps menjadi 14,5%. 

Dengan semua faktor tersebut, Bhima meyakini Bank Sentral tak akan melakukan perubahan pada suku bunga acuannya yang kini berada di level 4,25%.

"BI diperkirakan tidak akan utak-atik bunga acuan sepanjang tahun 2018 ini, akan gunakan cara lain untuk pacu intermediasi perbankan khususnya dengan pengendalian inflasi," pungkasnya. 

 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini