Bank Dunia Tingkatkan Pinjaman ke Negara Berpenghasilan Menengah Bawah

ant, Jurnalis · Jum'at 20 April 2018 09:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 20 20 1889146 bank-dunia-tingkatkan-pinjaman-ke-negara-berpenghasilan-menengah-bawah-xeO9J72n6c.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan, World Bank akan meningkatkan pinjaman kepada negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah dari waktu ke waktu.

Kim membuat pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan tentang rencana peningkatan modal USD13 miliar untuk Bank Dunia dan praktik-praktik peminjamannya yang akan dibahas selama pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia akhir pekan ini.

 Baca juga: Bank Dunia: Negara dengan Utang Tinggi Perlu Pengetatan Moneter

Sekitar USD7,5 miliar dari peningkatan modal akan diberikan kepada Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD), unit pemberi pinjaman utama kelompok, dan 5,5 miliar dolar AS akan diberikan kepada International Finance Corporation (IFC), unit pemberi pinjaman untuk sektor swasta kelompok itu, menurut laporan media lokal.

 World Bank (Ilustrasi Reuters)

Sementara banyak dewan gubernur Bank Dunia ingin memfokuskan pinjaman kepada negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah, rencana peningkatan modal tidak menargetkan perubahan pinjaman ke negara-negara tertentu, kata Kim pada konferensi pers, Washington, Kamis (19/4/2018) waktu setempat.

 Baca juga: Bank Dunia Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3% Tahun Ini

"Tidak ada dalam perjanjian yang kami tempatkan bersama dan persembahkan kepada para gubernur yang memberikan komentar tentang pinjaman negara tunggal," katanya.

"Ini tentang bagaimana kami berpikir tentang tingkat pendapatan dan bagaimana Kelompok Bank Dunia dapat terus menjadi mitra dan mendukung semua negara anggota kami," ia berpendapat.

Kim mengatakan peningkatan modal untuk IFC berarti bahwa unit pemberi pinjaman itu akan dapat "berbuat lebih banyak di negara-negara berpenghasilan menengah dan lebih tinggi juga. "Jadi hanya untuk memperjelas tentang ini, tidak ada dalam perjanjian yang menargetkan negara tertentu," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini