nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor 500.000 Ton Tak Mampu Turunkan Harga Beras

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 24 April 2018 19:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 24 320 1890998 impor-500-000-ton-tak-mampu-turunkan-harga-beras-jGHYMICnt4.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Beberapa waktu lalu, pemerintah memutuskan untuk membuka keran impor 500.000 ton beras. Langkah tersebut diambil pemerintah dalam rangka menstabilkan harga beras di pasaran yang mengalami lonjakan drastis.

Namun pandangan berbeda justru disampaikan oleh Guru Besar Institute Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa. Menurutnya, impor beras yang dilakukan oleh pemerintah sama sekali tidak bisa menurunkan harga beras di pasaran.

 Baca juga: Impor Beras Dinilai Terlambat, Dilakukan Ketika Harga Sudah Melambung

19.900 Ton Beras Impor Asal Vietnam Tiba di Cilegon Banten

"Impor 500.000 ton tidak ada efeknya sama sekali terhadap penurunan harga gabah dan beras," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Menurut Andreas, impor yang dilakukan oleh pemerintah justru membuat harga gabah yang dijual semakin melonjak. Sehingga dampaknya, harga jual beras di pasaran masih banyak yang berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

 Baca juga: YLKI: Beras Impor Jangan Sampai "Bocor" ke Pasar

"Harga gabah dan beras kemarin Rp11.800 yang HET Rp9.450," ucapnya.

 Melihat Aktivitas Pekerja Mengangkut Beras Impor dari Thailand di Gudang Bulog Sidoarjo

Bahkan lanjut Andreas, upaya yang dilakukan pemerintah dengan cara operasi pasar pun tak mampu membendung melambungnya harga jual beras dipasaran. Justru banyak pedagang yang memanfaatkan operasi pasar untuk meraup keuntungan yang lebih tinggi sebab harga beli yang mereka dapatkan jauh lebih murah.

"Dan operasi pasar yang dilakukan gagal tidak ada ceritanya itu memiliki dampak. Tidak ada dampak sama sekali," kata Andreas.

Andreas membeberkan, tingginya harga beras di pasaran tidak terlepas dari miss komunikasi antar internal pemerintahan baik antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian maupun Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). Ada ketidakcocokan antara data stok dan pasokan yang dimiliki oleh ketiga instansi dan lembaga tersebut.

"Sehingga awal 2018 terjadi lonjakan, stok beras sangat tipis di awal 2018 dan CBP (Cadangan Beras Pemerintah) ini terkuras di Februari (tahun 2018), bahkan minus 20 ribu sampai 40 ribu ton, lalu harga beras naik November sampai Februari 2018. Stok beras yang tipis ini agak mirip dengan data internasional yang ada stok beras di Indonesia terus menurun 4 tahun terakhir," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini