nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Surat Utang Negara Sepi Peminat, Sri Mulyani: Pembiayaan APBN Masih Aman

Ulfa Arieza, Jurnalis · Rabu 09 Mei 2018 21:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 09 20 1896495 surat-utang-negara-sepi-peminat-sri-mulyani-pembiayaan-apbn-masih-aman-t6umXsxvCb.jpg Foto: Sri Mulyani (Lidya/Okezone)

JAKARTA - Minat pembelian lelang Surat Utang Negara (SUN) yang rendah ditambah dengan tren imbal hasil yang tinggi membuat penawaran SUN sepi peminat.

Akan tetapi, di tengah kondisi tersebut, Menteri Kuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam kondisi aman. Dia mengatakan, pemerintah masih memiliki kecukupan dana untuk instrumen APBN 2018. Sebab pemerintah telah melakukan strategi front loading atau upaya menarik pembiayaan di awal tahun.

"Kita akan terus menjaga dari sisi pembiayaan APBN 2018. Sampai saat ini kita masih memiliki cash yang memadai karena kita sudah melakukan front loading waktu itu cukup banyak. Bahkan untuk tahun 2018 pendanaan yang cukup signifikan kita ambil dari global bond yang kita terbitkan sebelum tahun 2018, sekitar November lalu," ujarnya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (9/5/2018).

 

Dia melanjutkan, untuk penerbitan global bond pada semester I 2018 jauh melebihi kebutuhan. Akan tetapi, pemerintah akan tetrus memperhatikan kondisi pasar termasuk juga selera investor.

Termasuk, para pemegang surat utang baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek."Signal yang kita berikan adalah pemerintah akan terus mencoba memahami appetite yang disampaikan oleh para investor, calon pemebeli bonds. Namun pemerintah menekankan bahwa kita selalu punya opsi," ujarnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah akan terus mengikuti perkembangan ekonomi global, terutama yang terkait dengan kebijakan Amerika Serikat. Sri Mulyani menegaskan bawha kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih solid.

 

Memang, kata dia, ada kondisi tertentu yang menyebabkan Rupiah tertekan, antara lain kebijakan Amerika Serikat dan juga jatuh tempo pembayaran dividen perusahaan kepada pemegang saham asing yang tentunya membuat Dolar AS makin jarang di pasar Indonesia.

"Jadi poin saya adalah pemerintah akan terus meneliti, melihat tingkah laku investor namun di sisi lain kita wajib mengingatkan bahwa fundamental ekonomi dari sisi pertumbuhan di atas 5%, defisit APBN mendekati 2% yang jauh di bawah threshold-nya perundangan maupun negara lain," kata dia.

"Kita juga telah mendapatkan financing front load yang cukup bagus, kita memiliki opsi beberapa sumber pendanaan sehingga pada akhirnya kita bisa yakinkan bahwa Indonesia dalam situasi ekonomi stabil dan prospek yang baik ," tutup dia

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini