Image

Wall Street Bervariasi, Indeks S&P Turun Tipis

ant, Jurnalis · Rabu 09 Mei 2018 07:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 09 278 1896125 wall-street-bervariasi-indeks-s-p-turun-tipis-zBdPbwxZoj.jpg Bursa saham Wall Street ditutup mixed (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

NEW YORK - Saham-saham di Wall Street bervariasi tipis pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena para pelaku pasar mencerna keputusan Presiden AS Donald Trump tentang kesepakatan nuklir Iran.

Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 2,89 poin atau 0,01%, menjadi berakhir di 24.360,21 poin. Indeks S&P 500 turun 0,71 poin atau 0,03%, menjadi ditutup di 2.671,92 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir bertambah 1,69 poin atau 0,02%, menjadi 7.266,90 poin.

Trump mengatakan pada Selasa (8/5) bahwa Amerika Serikat akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, perjanjian penting yang ditandatangani pada 2015.

Banteng Wall Street, Salah Satu Ikon Terpopuler Kota New York

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Trump mengumumkan keputusan tersebut, menambahkan bahwa dirinya tidak akan menandatangani surat pelepasan sanksi-sanksi atas Iran terkait nuklir.

Trump mengulang sikap tegasnya soal kesepakatan tersebut, yang dianggapnya gagal mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir atau mendukung terorisme di kawasan.

Gedung Putih bersikeras untuk mengambil keputusan itu, kendati Trump mengakui dalam pidatonya bahwa Iran telah mematuhi kesepakatan.

Banteng Wall Street, Salah Satu Ikon Terpopuler Kota New York

Beberapa analis mengatakan bahwa keputusan Trump dapat mengirim harga minyak lebih tinggi, yang akan berdampak pada pendapatan perusahaan.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga dalam fokus, yang dilaporkan pada Selasa (8/5) pagi di sebuah acara di Swiss mengatakan bahwa ekonomi-ekonomi pasar berkembang harus dapat mengelola karena ekonomi-ekonomi negara maju bergerak ke arah kebijakan moneter yang lebih ketat.

Di sisi ekonomi, jumlah lowongan pekerjaan meningkat menjadi 6,6 juta pada hari kerja terakhir Maret, mengalahkan konsensus pasar 6,1 juta, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Selasa (8/5).

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini