nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Luar Ekspektasi, Neraca Perdagangan April Defisit USD1,63 Miliar

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 11:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 15 20 1898471 di-luar-ekspektasi-neraca-perdagangan-april-defisit-usd1-63-miliar-c1pjOprB95.jpg Pengumuman Neraca Perdagangan April 2018 oleh BPS. (Foto: Febby Novalius/Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan selama April 2018 defisit USD1,63 miliar. Di mana pada bulan lalu atau Maret 2018 neraca perdagangan surplus USD1,09 miliar.

"Dengan menggabungkan ekspor dan impor maka di luar ekspektasi neraca perdagangan pada April defisit USD1,63 miliar. Januari-Febuari defisit, pada Maret membaik, tapi pada April mengalami defisit lebih kepada impor yang lebih tinggi," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

https://img-z.okeinfo.net/library/images/2018/05/15/2ppv1xpx720lgo2yfhyt_21343.jpg

Dia mengatakan, mengatakan, selama Maret ke April 2018 ada fluktuasi komoditas baik migas maupun non migas. Misalnya, ICP atau minyak mentah Indonesia di pada Maret sebesar USD61 dan April naik menjadi USD67,43, komoditas non migas naik nikel maupun cokelat. Sementara itu, untuk harga yang mengalami penurunan karet maupun kelapa sawit.

Baca Juga : Neraca Perdagangan April 2018 Diprediksi Surplus USD520 Juta

"Dengan itu mempengaruhi nilai ekspor April 2018 sebesar USD14,47 miliar. Bila dibandingkan Maret turun 7,19% dan dibandingkan April 2017 berarti ekspor meningkat 9,01%," tuturnya.

Hal tersebut terjadi karena 92% ekspor berasal ekspor non migas. Penurunan impor 7,19% itu terjadi penurunan ekspor baik migas maupun non migas. Ekspor migas di sana pada april USD1,19 miliar atau dibandingkan dengan posisi ekspor non migas Maret terjadi penurunan 11,32%.

https://img-z.okeinfo.net/library/images/2018/05/15/9zdsseptucbm8mg7fqfh_17524.jpg

"Nilai ekspor gas meningkat, tapi hasil minyak mengalami penurunan. Jadi penurunan disebabkam hasil minyak dan minyak mentah menurun," tuturnya.

Sementara itu, untuk capai impor pada April 2018 naik signifikan sebesar USD16,09 miliar atau bila dibandingkan Maret 2018 naik 11,28%. Dibandingkan April 2017 meningkat 34,6%.

"Apa yang terjadi? Kenaikan impor tinggi ini terjadi karena kenaikan impor di migas maupun non migas. Jadi migas nilai minyak mentah turun, hasil minyak naik dan nilai gas naik. Sementara impor non migas naik 12,98%," tuturnya.

Baca Juga :  Neraca Perdagangan Maret 2018 Surplus USD1,09 Miliar

Bila dilihat kenaikan impor dari sektornya, untuk barang konsumsi naik 25,80%. Hal ini terjadi karena ada beberapa jenis kenaikan tinggi seperti impor beras yang belum terealisasi dan daging beku. Kemudian impor buah pir dan buah apel.

"Barang baku impor naik 10,73%, ada beberapa bahan baku untuk industri hal ini diharapkan bisa menggerakkan industri dalam negeri. Kacang kedelai itu impor dari Argentina dan Brasil, keperluan handphone, gandum. Barang modal naik 6,59% seperti mesin dan beberapa itu," tuturnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini