Image

Neraca Perdagangan April 2018 Diprediksi Surplus USD520 Juta

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 09:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 15 320 1898419 neraca-perdagangan-april-2018-diprediksi-surplus-usd520-juta-JF0ooisTwE.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis neraca perdagangan selama April 2018 pada hari ini. Diproyeksikan neraca perdagangan surplus USD520 juta.

Ekonom Indef Bhima mengatakan, dari sisi ekspor sebenarnya tren kenaikan harga komoditas, kemudian membaiknya perekonomian negara tujuan ekspor seperti AS dan China menjadi faktor pendorong kinerja ekspor.

Namun, perlu mewaspadai adanya penurunan terutama produk CPO. Sepanjang triwulan I 2018 nilai ekspor CPO menurun drastis 17,3% dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Penurunan ekspor CPO dipengaruhi oleh proteksi dagang berupa kenaikan bea masuk terutama dari India dan beberapa retailer di Eropa menghentikan penjualan produk yang mengandung sawit," tuturnya dalam keterangan yang diterima Okezone, Selasa (15/5/2018).

 BPS, Nilai Ekspor Bulan Februari Alami Penurunan 6,17%

Dia melanjutkan, untuk porsi ekspor komoditas mentah masih cukup besar dari total ekspor Indonesia sehingga rentan terhadap hambatan dagang di negara tujuan ekspor.

Sementara dari sisi impor, menjelang Ramadan terdapat faktor musiman meningkatnya impor terutama barang konsumsi. Selain itu, imbas libur lebaran yang panjang membuat pelaku usaha melakukan impor bahan baku lebih cepat.

"Prilaku ini juga disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun sehingga importir melakukan antisipasi dengan mempercepat impor," ujarnya.

 BPS, Nilai Ekspor Bulan Februari Alami Penurunan 6,17%

Hal lain yang jadi penyebab penurunan surplus adalah defisit neraca migas selama triwulan I 2018 terus membengkak, ada kenaikan USD100 juta dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Pada Januari-Maret defisit neraca migas mencapai USD2,7 miliar. Kebutuhan BBM semakin besar, sementara lifting minyak terus menurun.

"Akhirnya ketergantungan impor di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia menjadikan kualitas neraca dagang tidak sehat," ujarnya.

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini