Image

Impor Naik Tajam, Menko Darmin: Tidak Mungkin Diredam

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 16:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 15 320 1898604 impor-naik-tajam-menko-darmin-tidak-mungkin-diredam-zRde5ctZGq.jpg Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) terkejut dengan nilai impor April 2018 yang naik di luar ekspektasi sebesar USD16,09 miliar. Bila dibandingkan bulan sebelumnya impor naik 11,28%, demikian pula jika dibandingkan periode yang sama 2017 sebesar 34,6%.

Menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, kenaikan impor terjadi karena banyak sekali yang tidak bisa kita produksi di dalam negeri. Apalagi pembangunan infrastruktur dan proyek-proyek swasta saat ini sedang bertumbuh.

Darmin Nasution dan Yasonna Bicara Perbaikan Iklim Usaha dan Revitalisasi Hukum

"Artinya memang gini, ekonomi kita secara struktural itu kalau pertumbuhan naik, mulai naik saja.

Investasinya naik, pembangunan infrastruktur mulai realisasinya makin banyak, mau tidak mau impor naik. Karena kita tidak menghasilkan jumlah barang yang kita perlukan," tuturnya, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Baca Juga: Di Luar Ekspektasi, Neraca Perdagangan April Defisit USD1,63 Miliar

Sebenarnya antara ekspor dan impor tidak bisa selalu tumbuhnya seirama. Untuk itu pemerintah sudah menyiapkan satu langkah dengan memudahkan suatu perizinan investasi. Isinya pemberian insentif untuk investasi apalagi bagi perusahaan orientasinya ekspor.

"Kalau nanti kalian lihat daftar kegiatan yang dapat tax holiday dan allowance itu sebagian memang yang berorientasi ekspor. Tapi kita perlu yang kalau investasi naik, pertumbuhan naik, impornya naik. Karena itulah kalau diredam impornya, itu akan memukul pertumbuhan berikutnya," ujarnya.

Darmin Nasution dan Yasonna Bicara Perbaikan Iklim Usaha dan Revitalisasi Hukum

Dengan cara ini maka neraca perdagangan ke depan bisa surplus dengan ekspor yang lebih besar nantinya.

"Nah, oleh karena itu bukan impornya yang harus ditekan. Untuk menyeimbangkan ekspornya harus didorong lagi," tandasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini