Image

Impor Naik Tajam, Sri Mulyani: Industri Sedang Tumbuh

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 18:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 15 320 1898672 impor-naik-tajam-sri-mulyani-industri-sedang-tumbuh-DV5INuJ6kU.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor April 2018 naik di luar ekspektasi yakni sebesar USD16,09 miliar. Angka ini meningkat 34,6% bila dibandingkan tahun sebelumnya atau naik 11,28% dibandingkan bulan sebelumnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, kenaikan impor yang didorong peningkatan barang  bahan baku naik 10,73%, menunjukkan sektor produksi sedang tumbuh.

Baca Juga: Impor Naik Tajam, Menko Darmin: Tidak Mungkin Diredam

"Ini momentumnya itu luar biasa tinggi sekali. Ini menggambarkan bahwa kebutuhan industri atau kebutuhan aktivitas ekonomi dalam negeri sangat besar. Artinya, positif interpretasinya adalah ini menunjukkan bahwa sektor produksi sedang bergerak," ujar dia saat ditemui di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa ( 14/5/2018).

Defisit Neraca Perdagangan

Bendahara Negara ini pun berharap dengan peningkatan impor bahan baku tersebut sektor industri dalam negeri terus mengalami perbaikan. Hal ini didorong berbagai kebijakan yang dapat meningkatkan investasi dan ekspor.

Tercatat, nilai ekspor April 2018 tercatat sebesar USD14,47 miliar. Turun 7,19% bila dibandingkan dengan capaian bulan Maret, namun meningkatkan bila dibandingkan April 2017 sebesar meningkat 9,01%.

Baca Juga: Impor Pesawat Terbang dan Bagiannya Naik 290% pada April 2018

Pertumbuhan secara tahunan ini dinilainya masih menunjukkan tren yang sangat sehat. Sebab, memang ekspor terus ditargetkan untuk meningkat. Hal ini juga dapat didorong dengan melakukan diversifikasi dari komoditas maupun negara tujuan ekspor.

"Ini lah yang selalu diminta oleh Bapak Presiden, untuk Para Menteri bisa kembangkan terutama produk-produk ekspor, manufaktur yang bisa kompetitif di dunia," imbuhnya.

 Defisit Neraca Perdagangan

Dari sisi kebijakan, lanjutnya, didorong dengan fasilitas fiskal baik tax haliday maupun tax allowance, insentif untuk industri kecil padat karya dan ekspor oriented, maupuan insentif kepada perusahaan yang melakukan vocational training dan research untuk menambah kemampuan mereka mendiversifikasikan produk.

"Hasil dari ini (nilai ekspor impor) memberikan PR kepada pemerintah untuk kerja lebih cepat dan keras di dalam memperbaiki industri, komoditi dan daerah tujuan ekspor. Dan kita siap untuk melakukan," pungkasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini