nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Petani Keluhkan Kualitas Benih Bawang Putih Impor

ant, Jurnalis · Rabu 16 Mei 2018 08:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 16 320 1898836 petani-keluhkan-kualitas-benih-bawang-putih-impor-zoDb05iMAJ.jpg Foto: Bawang Putih (Okezone)

JAKARTA - Kelompok Tani di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat mengeluhkan kualitas benih bawang putih impor yang ditawarkan kepada masyarakat jauh di bawah kualitas benih bawang putih lokal. Hal itu berdampak signifikan pada hasil produksi petani.

Hal ini juga akan mengancam realisasi program pemerintah dalam pencapaian target swasembada bawang putih di tahun 2021.

"Kita bisa lihat dari realisasi program tahun 2017 kemarin, banyak sekali bentuk penyimpangan di lapangan. Itu bisa terjadi karena lemahnya kontrol dari pemerintah," kata Ketua Kelompok Tani Montong Mentagi di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Ahmadi.

 Stabilisasi Harga, Bulog Divre NTT Datangkan 7 Ton Bawang Putih dari Jatim

Titik permasalahan, bukan pada 11 importir yang melaksanakan wajib tanam 5 persennya di Kecamatan Sembalun. Melainkan persoalannya ada pada realisasi APBN-P 2017 oleh PT Pertani.

"Sesungguhnya bagi kami akar dan titik permasalahannya bukan di benih impor itu, tapi yang dari APBN-P 2017 itu permasalahannya. Kalau benih impor itu tidak kita permasalahkan, kita bisa panen, walaupun hasilnya tidak begitu maksimal, karena benih itu butuh adaptasi" ucap Ahmadi.

Pada tahun 2017, jelasnya, masyarakat petani menerima kabar bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana APBN-P 2017 sebesar Rp100 miliar untuk menyerap benih bawang putih lokal di wilayah Sembalun. Dana tersebut dipercayakan kepada BUMN, PT Pertani, yang ditunjuk sebagai penangkar benih bawang putih lokal.

  Warga Serbu Operasi Pasar Bawang Putih di Pasar Induk Osowilangun  Surabaya

Namun PT Pertani hanya mampu menangkar benih bawang putih lokal sebanyak 350 ton dari kuota target 1.500 ton. 350 ton benih bawang putih lokal tersebut dibelinya dengan harga Rp30 miliar.

"Pemerintah (PT Pertani) waktu itu mau membeli benih 1.500 ton, tapi tidak ada benih sebanyak itu disini, jadi yang hanya tercover sebanyak 350 ton. Makanya lebih banyak uang yang kembali ke negara (Rp70 miliar)," ujarnya.

Keterbatasan benih bawang putih lokal di Sembalun turut berimbas pada 11 importir yang ingin melaksanakan kewajibannya menanam 5% dari besar kuota impornya.

Masyarakat yang sempat mendapatkan tawaran untuk menanam benih bawang putih impor, menolak karena dari segi kualitas dan kuantitas produksinya, jauh lebih menguntungkan dari hasil produksi benih lokal.

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini