nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

197,4 Juta Orang RI Jadi Peserta BPJS Kesehatan

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 16 Mei 2018 14:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 16 320 1898973 197-4-juta-orang-ri-jadi-peserta-bpjs-kesehatan-7YcL8XaiJc.jpg Foto: Peserta BPJS Kesehatan (Giri/Okezone)

JAKARTA - BPJS Kesehatan mencatatkan jumlah peserta Program Jaminan Kesehatan NasionaI-Kartu Indonesia (JKN-KIS) hingga 11 Mei 2018 sebanyak 197,4 juta jiwa. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan jumlah peserta hingga akhir tahun 2017 lalu yang baru mengumpulkan peserta sebanyak 187,9 juta jiwa.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, dengan jumlah tersebut, artinya sudah 75% masyarakat yang sudah tercover dan menjadi peserta dari BPJS Kesehatan. Jumlah tersebut masih on track dari target yang dicanangkan oleh pemerintah.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan 95% dari 250 juta penduduk Indonesia menjadi peserta BPJS Kesehatan pada tahun 2019 mendatang. Artinya masih sekitar 40,1 juta penduduk Indonesia lagi yang belum menjadi anggota BPJS Kesehatan.

"Cakupan peserta 76,6%. Mohon doanya dan dukungan tahun 2019 peserta kita mencapai 95%," ujarnya dalam acara paparan laporan keuangan di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Monitoring Pemberi Kerja Terhadap Kepatuhan BPJS

Sementara itu lanjut Fachmi, daIam hal memberikan pelayanan kesehatan, tahun 2017 BPJS Kesehatan sudah bermitra dengan 21.763 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Jumlah tersebut terdiri atas puskesmas, Dokter Praktik Perorangan (DPP), klinik TNI/Polri, klinik pratama, rumah sakit D pratama, dan dokter gigi praktik perorangan.

Tak sampai di situ BPJS Kesehatan juga melakukan upaya lain untuk memberikan manfaat yang lebih bagi para peserta terhadap fasilitas layanannya. Pada tahun yang sama, di tingkat Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 2.268 rumah sakit dan klinik utama.,

Pada tahun 2017, pemanfaatan di FKTP mencapai 150,3 juta, pemanfaatan di poliklinik rawat jalan rumah sakit sebesar 64,4 juta, dan pemanfaatan rawat inap di rumah sakit sebanyak 8,7 juta. Jika ditotal maka ada 223,4 juta pemanfaatan pelayanan kesehatan di seluruh tingkat pelayanan. Artinya. rata-rata pemanfataan pelayanan kesehatan per hari kalender adalah 612.055 pemanfataan.

“Adapun total pemanfaatan dari tahun 2014 sampai dengan 2017 adalah 640,2 juta pemanfaatan.” ucapnya.

Sementara itu, jumlah pendapatan iuran JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan tahun 2017 mencapai Rp74,25 triliun. Jika diakumulasikan sepanjang 4 tahun, maka total iuran JKN-KIS mencapai Rp235,06 triliun rupiah.

Namun disisi lain, jumlah total klaim atau pengeluaran dari BPJS Kesehatan mencapai sekitar Rp84 triliun sepanjang tahun 2017. Artinya jika dihitung berdasarkan pengeluaran dan pendapatan, ada defisit sekitar Rp10 triliun.

"Prinsipnya begini kalo kita pendapatan itu berdasarkan prinsip anggaran. Jadi iuran dan pengeluaran harus seimbang," jelasnya.

Dari sisi pembayaran lanjut Fachmi, BPJS juga memberikan kemudahan layanan. Saat ini ada 12.606 kantor cabang dan 59.937 unit ATM bank mitra BPJS Kesehatan (Mandiri, BRl, BNI, dan BTN) yang siap melayani pembayaran iuran peserta JKN-KIS.

"Peserta JKN-KIS juga bisa membayar iurannya melalui internet banking, sms banking, mesin EDC, autodebet, mobile banking, jaringan minimarket, Kader JKN. Kantor Pos, Pegadaian, aplikasi Go-Jek, Pay Tren, dan sebagainya," jelasnya.

Sementara itu, dari sisi indeks kepuasan fasilitas kesehatan yang melayani pasien JKN-KIS secara total mencapai 75,7%. Khusus di tingkat FKTP, indeks kepuasan mencapai 75,9%, sementara di tingkat FKRTL adalah sebesar 75,2. Angka-angka tersebut termasuk dalam kategori tinggi dan sesuai angka yang ditetapkan pemerintah.

"Untuk tingkat kepuasan peserta JKN-KIS tahun 2017 juga masuk dalam kategori tinggi yakni sebesar 79,5%,” kata Fachmi.

 BPJS Kesehatan Capai 64 Persen dari Total 1,6 Juta Jiwa Kota Depok

Tak hanya itu, JKN-KIS juga dinilai mampu menghindarkan masyarakat dari risiko jatuh miskin akibat membayar biaya pelayanan kesehatan penyakit katastropik yang notabene berbudget tinggi. Menurut Fachmi, pengeluaran masyarakat untuk iuran JKN-KIS dapat dianggap sebagai investasi karena Program JKN-KIS terbukti mampu melindungi keluarga dari kemiskinan akibat penyakit berbiaya mahal.

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI tahun 2017, pada tahun 2016 Program JKN-KIS telah menyelamatkan 1,16 juta orang dari kemiskinan. Tak hanya itu, JKN-KIS Juga telah melindungi 14,5 juta orang miskin dari kondisi kemiskinan yang Iebih parah.

“Kalau dihitung-hitung, operasi jantung bisa habis ratusan juta rupiah. Biaya cuci darah sebulan bisa menghabiskan belasan juta. Biaya pengobatan penyandang thalassemia dan hemofilia bisa mencapai jutaan rupiah. Mungkin pada awalnya, kalangan masyarakat yang mampu masih bisa menanggung biayanya. Tapi lama-kelamaan pasti ada satu titik di mana mereka tidak mampu lagi untuk membiayai penyakit-penyakit tersebut," kata Fachmi

 BPJS Kesehatan Capai 64 Persen dari Total 1,6 Juta Jiwa Kota Depok

Selain itu, pada tahun ini juga, BPJS Kesehatan kembaii berhasii mendulang predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang sekarang dikenal dengan istilah Wajar Tanpa Modifikasian (WTM) ke-26 jika dihitung sejak periode PT Askes (Persero). Menurut akuntan publik yang mengaudit, Mirawati Sensi Idris (MSI) yang berafiliasi dengan Moore Stephens International Limited, laporan keuangan Dana Jaminan Sosial dan BPJS Kesehatan telah disajikan secara wajar dan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di lndonesia.

“Bukan cuma itu. Dari hasil pengukuran Good Governance Tahun 2017 oleh BPKP, BPJS Kesehatan juga mendapatkan nilai baik dengan skor aktual 85,63 dari skor maksimal 100," ucapnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini