Image

Neraca Perdagangan Defisit, Menperin: Dampak Positifnya Jangka Panjang

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 16 Mei 2018 17:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 16 320 1899077 neraca-perdagangan-defisit-menperin-dampak-positifnya-jangka-panjang-6EX9C85LSW.jpg Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Antara)

JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, defisit perdagangan pada April 2018 dipicu peningkatan impor bahan baku dan bahan penolong bagi industri, sehingga akan berdampak positif pada jangka panjang.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 mengalami defisit sebesar USD1,63 miliar. Angka ini meningkat 34,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau naik 11,28% dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini pun didorong peningkatan barang bahan baku sebesar 10,73% dan barang konsumsi sebesar 25,80%.

Defisit Neraca Perdagangan

"Kalau kita lihat impornya banyak soal capital goods, bahan baku dan bahan penolong. Kalau capital goods artinya realisasi investasi dan itu kan positif. Tentu nanti harapannya ke depan kita akan memacu ekspor," kata Airlangga saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Dia menyatakan, maka hal ini akan memberi dampak yang positif untuk jangka panjang. "Secara jangka panjang positif karena capital goods impor barang modal masuk itu juga positif. Jadi yang harus didorong ke depan adalah salah satunya produksi untuk subtitusi impor," imbuhnya.

Dia menjelaskan, saat ini pemerintah tengah berupaya melakukan subsitusi bahan baku impor. Seperti pada industri tekstil yang selama ini sebagian besar mengandalkan bahan baku impor berupa katun yang diharapkan disubsitusi dengan rayon.

Defisit Neraca Perdagangan

"Kalau bicara tekstil, katun itu impor. Kalau substitusinya rayon. Rayon itu sedang dibangun. Industri seperti rayon ini harus dibangun. Substitusinya lagi apa? Dari poliyester dari petrochemical," kata dia.

Di sisi lain, kata dia, pemerintah juga terus mendorong peningkatan investasi dan ekspor melalui insentif pajak. Seperti tax holiday dan tax allowence dan superdeduction tax.

"Solusinya pemerintah memberikan insentif untuk industri hulu dan pionir itu sedang dibahas. Kemudian pendalaman industri dorong ekspor. Kemarin kan Pak Presiden Jokowi juga ke Tanjung Priok dan ekspornya itu langsung dari Jakarta ke Los Angels tentu nanti didorong lagi dari Jakarta ke Rotterdam," pungkasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini