nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bank Indonesia Diproyeksi Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,5%

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 15:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 17 20 1899455 bank-indonesia-diproyeksi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-5-5RHArdmgXe.jpeg Ekonom Bank Mandiri (Foto: Ulfa/Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menaikkan tingkat suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan dirilis pada hari ini. Saat ini tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 4,25%.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menjelaskan bahwa fenomena pasar saat ini terjadi lebih cepat dari perkiraan yang sebelumnya diyakini akan terjadi pada akhir tahun.

Sebagaimana diketahui bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) telah menaikkan tingkat suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) pada kisaran 1,5% hingga 1,75%. Kenaikan FFR memberikan efek domino kepada perekonomian global.

Kenaikan FFR ini juga mengokohkan Dolar AS yang turut mengerek kenaikan yield US treasury hingga k level 3%. Fenomena tersebut memberikan dampak kepada nilai tukar mata uang terutama pada emerging country. Kondisi tersebut juga terus menekan Rupiah.

BI Pertahankan Reverse Rate Tetap 4,75%

"Jadi kita rubah perkiraan kita ke hari ini. Itu yang kita lihat kenaikannya 25 bps lebih kepada memberikan sinyal bahwa faktor risikonya diperkecil," ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Selain itu, bank sentral juga perlu mempertimbangkan makin melebarnya Current Acount Defisit (CAD) dengan pelemahan Rupiah. BI menyatakan optimis bahwa CAD masih bisa dijaga di bawah batas aman 3% atau berada di kisaran 2,1% hingga 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Walaupun dalam gejolaknya kuartal II bisa lebih tinggi dari 2,5% karena seasonnya pembayarannya dividen pada kuartal II, tapi yang lebih penting fundamental jangka panjang. Jadi CAD adalah hal yang perlu kita perhatikan bukan karena dia jelek tapi ini bisa jadi titik risiko yang bisa dilihat dari semua negara yang terkena pelemahan nilai tukar Rupiah," jelas dia.

Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS

Sementara dari sisi inflasi sendiri, Anton meyakini bahwa pemerintah masih bisa menjaga inflasi dalam angka yang stabil dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan. Kendati demikian, pemerintah harus memperhatikan harga komoditas yang berangsur-angsur naik.

Di mana harga komoditas tersebut akan mempengaruhi beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kalau beban tidak dimunculkan pada subsidi di anggaran, keliatannya relatif aman. Tetapi ada beban yang di shift ke BUMN itu yang perlu dicermati," jelas dia.

Adapun Bank Mandiri memperkirakan inflasi tahun ini pada level 4% dengan catatan belum memasukan kemungkinan perubahan dalam sisi administered price, misalnya harga bahan bakar minyak (BBM) mengingat harga minyak dunia yang terus naik menjauhi asumsi makro dalam APBN yaitu USD48 per barel.

 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini