nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Sore Ini Rp14.058, Masih Menunggu Pengumuman Suku Bunga Acuan BI

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 16:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 17 278 1899504 rupiah-sore-ini-rp14-058-masih-menunggu-pengumuman-suku-bunga-acuan-bi-bI85nkqcOB.jpg Uang Rupiah. Foto: Okezone

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhirnya menguat. Menanti pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia, sore ini Rupiah berada di level Rp14.058 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (17/5/2018) pukul 16.28, Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 39 poin atau 0,28% ke level Rp14.058 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.053-Rp14.083 per USD.

Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 41 poin atau 0,29% menjadi Rp14.047 per USD. Dalam pantuan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp14.038 per USD hingga Rp14.088 per USD.

Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menjelaskan bahwa fenomena pasar saat ini terjadi lebih cepat dari perkiraan yang sebelumnya diyakini akan terjadi pada akhir tahun. Sebagaimana diketahui bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) telah menaikkan tingkat suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) pada kisaran 1,5% hingga 1,75%. Kenaikan FFR memberikan efek domino kepada perekonomian global.

Kenaikan FFR ini juga mengokohkan Dolar AS yang turut mengerek kenaikan yield US treasury hingga k level 3%. Fenomena tersebut memberikan dampak kepada nilai tukar mata uang terutama pada emerging country. Kondisi tersebut juga terus menekan Rupiah.

"Jadi kita rubah perkiraan kita ke hari ini. Itu yang kita lihat kenaikannya 25 bps lebih kepada memberikan sinyal bahwa faktor risikonya diperkecil," ujarnya di Plaza Mandiri.

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Sentuh Rp13.747 per Dolar AS

Selain itu, bank sentral juga perlu mempertimbangkan makin melebarnya Current Acount Defisit (CAD) dengan pelemahan Rupiah. BI menyatakan optimis bahwa CAD masih bisa dijaga di bawah batas aman 3% atau berada di kisaran 2,1% hingga 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Walaupun dalam gejolaknya kuartal II bisa lebih tinggi dari 2,5% karena seasonnya pembayarannya dividen pada kuartal II, tapi yang lebih penting fundamental jangka panjang. Jadi CAD adalah hal yang perlu kita perhatikan bukan karena dia jelek tapi ini bisa jadi titik risiko yang bisa dilihat dari semua negara yang terkena pelemahan nilai tukar Rupiah," jelas dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini