nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

45% Penduduk Jakarta Tinggal di Rumah Hasil Warisan

Rani Hardjanti, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 12:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 17 470 1899369 45-penduduk-jakarta-tinggal-di-rumah-warisan-jhtArK0utP.jpg 45% rumah penduduk di Jakarta adalah warisan. (Ilustrasi : Okezone)

JAKARTA - Meski masuk dalam kriteria kebutuhan pokok, tempat tinggal masih saja menjadi isu yang belum teratasi dengan baik. Edukasi, terlebih soal pembiayaan, membuat banyak orang masih menunda pembelian huniannya.

 Dalam sentimen survei kali ini, Rumah123 menemukan fakta bahwa nyaris 45% penduduk Jakarta tidak tinggal di rumah yang mereka bisa beli sendiri. Berdasarkan data yang dioleh tim Business Intelligent Rumah123, meski tinggal di rumah yang berlabel milik sendiri, hunian tersebut didapat dari hasil warisan keluarga.

(Ilustrasi : Shutterstock)

Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung menjelaskan hasil survei yang terbilang masih sangat mengkhawatirkan. “Mereka yang memiliki penghasilan bulanan baik di bawah atau di atas Rp10 juta tetap kesulitan membayar DP,” kata Untung dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Baca Juga : Ini Alasan Generasi Milenial Enggan Tinggal di Hunian Vertikal

Betul, pengakuan tinggal di rumahsendiri, namun rumah tersebut mereka peroleh dari warisan. Bukan dibeli dengan uang mereka sendiri,” ujar Untung memaparkan.

Berdasarkan data, besaran uang muka atau down payment (DP) ternyata masih menjadi momok di semua kelompok penghasilan.

“Jadi kurang tepat jika berpikir hanya mereka dengan penghasilan kecil yang kesulitan menyediakan dana untukpembayaran DP,” ujarnya.

Baja Juga : Generasi Milenial Harus Pandai-Pandai Berburu Tempat Tinggal

Jika mereka yang berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan kesulitan membayar DP lantaran kurangnya penghasilan, berbeda dengan yang di atas Rp10 juta.

Golongan berpenghasilan terbilang besar ini cenderung kesulitan membayar DP karena “terlilit” utang. Sebut saja credit card, Kredit Tanpa Agunan (KTA), dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

Menariknya, ada tren definisi investor terkini. Meski baru membeli properti untuk kali pertama, milenial sudah menggolongkan dirinya sebagai investor, bukan lagi first home buyer.


“Responden milenial sudah cukup sadar bahwa properti memiliki return yang bagus. Jadi, meski bukan hunian idamannya, saat mampu membeli sebuah properti, maka mereka akan berpikir itu sebagai bentuk investasi,” ujar Country General Manager anak perusahaan REA Group Australia ini.

Data menunjukkan, bahwa 60,32% milenial di rentang usia 22-28 tahun mencari hunian sebagai bentuk investasinya. Sementara 39, 68% lainnya belum berencana sedikitpun. Meningkat cukup banyak, setidaknya ada 75% milenial di rentang usia 29-35 yang mulai mencari hunian investasi.

Pola pikir pragmatis juga cukup mewarnai keputusan pembelian properti dengan menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini cenderung terjadi pada masyarakat digolongan penghasilan di bawah Rp10 juta yang rela membayar cicilan dengan bunga lebih tinggi selama proses pengajuannya tidak terlalu sulit.

Sentiment Survei H-I tahun 2018 ini melibatkan 1.922 responden selama periode 13 Maret-27 April 2018. Responden berasal dari Jabodetabek dan beberapa kota besar lainnya di Pulau Jawa.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini