Image

Pemerintah Target Ekspor Jagung 2018 Capai 500 Ribu Ton

Rizka Diputra, Jurnalis · Jum'at 18 Mei 2018 15:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 18 11 1899888 pemerintah-target-ekspor-jagung-2018-capai-500-ribu-ton-mBVIHTS6En.JPG Mentan RI, Andi Amran Sulaiman (Foto: Dok. Kementan RI)

JAKARTA - Sejak dekade 1980 hingga 2015, Indonesia menggantungkan kebutuhan jagung omposit, untuk industri pakan ternak, seiring berkembangnya industri peternakan telah mengantarkan negeri ini berswasembada protein unggas. Hal tersebut ditandai oleh ekspor produk daging ayam olahan ke Jepang.

Jepang memang negara tujuan ekspor yang sangat bergengsi, karena negeri matahari terbit itu sangat super ketat dalam menetapkan standar produk yang bisa masuk ke negaranya.

Jagung, merupakan komponen terbesar dari produk pakan ternak lebih dari 70 persen kandungan pakan ternak adalah jagung. Indonesia, mengikuti perkembangan industri peternakan, sehingga kebutuhan akan komoditas ini menjadi vital. Data statistik menunjukkan total impor jagung kita, rata-rata, tiga juta ton, per tahunnya dengan total devisa negara yang tersedot sekitar Rp12 triliun.

Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, yang bertugas sejak Oktober 2014 lalu langsung menetapkan prioritas tugasnya dengan membenahi sarana produksi padi yakni perbaikan irigasi tiga juta hektare untuk peningkatan komoditas beras.

Di tengah kesibukan yang menyita waktu, tiba-tiba, Mentan dikagetkan dengan demo peternak unggas di Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Mereka meminta Mentan Amran Sulaiman turun dari jabatannya pada 3 Februari 2016 lalu lantaran kurangnya pasokan jagung dan harga melonjak hingga Rp10.000/kg di tingkat pengecer.

Mentan

Mentan saat itu sedang berada di sekitar Kabupaten Lumajang dalam rangka kunker peningkatan produksi hortikultura, bawang dan cabai seketika langsung membelokkan rute kunker, ditemani Pangdam V Brawijaya. Hari itu juga Mentan datang menemui peternak yang berdemo, seraya meminta Bulog Divre Jawa Timur, segera memasok kebutuhan jagung peternak, dan menjual dengan harga tidak boleh lebih dari Rp7000/kg.

Usai kunjungan kerja di Jatim, dirinya kemudian mengundang stake holder dari industri pakan ternak. Dari pertemuan tersebut, ia mewajibkan industri pakan ternak untuk terlibat langsung dalam peningkatan produksi jagung dan bermitra dengan kelompok tani dalam koordinasi dinas pertanian, provinsi dan kabupaten. Kegiatan ini diiringi dengan pembatasan impor jagung.

Kebijakan Mentan itu terbukti membuahkan hasil ditandai dengan turunnya impor jagung Indonesia, di mana pada tahun 2016 periode Januari hingga Oktober hanya 130.677 ton. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka penurunan impor jagung sangat tajam bila dibanding periode 2010-2015. Ini adalah impor jagung terendah dalam kurun waktu lima tahun.

Mentan sebelumnya juga menghadap Presiden, meminta Perpres untuk penetapan harga dasar dalam waktu satu pekan. Perpres tersebut tentang Harga Dasar Pembelian Jagung Petani Rp3.150 per kilogram dengan kadar air 15-20 persen. Perpres tersebut diyakini menjadi pemicu meningkatnya luasan tanam jagung di berbagai provinsi, terutama Sentra Nasional seperti Gorontalo yang sudah ekspor hingga periode Mei 2018 sebesar 80.000 ton.

Sulawesi Selatan hingga Mei 2018, mencapai 70.000 ton, menyusul Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan ekspor hingga 200.000 ton. Dari pencapaian tersebut, sehingga tidak mengada-ada jika Indonesia menargetkan ekspor jagung sebesar 500.000 ton tahun ini.

Jagung

Dalam berbagai lawatannya ke kawasan ASEAN, Mentan kerap menawarkan produksi petani Indonesia. Menurut Menteri Amran, ASEAN merupakan peluang pasar ekspor komoditas pertanian, karena terlebih jaraknya yang dekat dari sisih geografis maupun menguntungkan secara ekonomis. Harga yang ditawarkan Indonesia pun jauh lebih murah, bila dibanding nilai impor dari mancanegara.

Malaysia, membutuhkan jagung, lebih dari dua juta ton, setiap tahunnya dan Filipina sekitar satu juta ton. Sejumlah negara ASEAN pun telah menyatakan minat untuk impor jagung dari Indonesia. Bahkan Filipina sudah menandatangani MoU dan hingga Mei 2018. Sejumlah wilayah di Indonesia memiliki sentra produksi jagung yang sangat potensial di antaranya Jatim, Jateng, Sumut, Sumsel, Lampung dan Kalimantan.

BPS baru-baru ini merilis data yang menggembirakan di saat ekspor dari sektor lain menurun Tercatat, sektor pertanian justru menyumbang angka kenaikan ekspor signifikan. Angka kenaikan ekspor komoditas pertanian yang bersumber dari BPS senilai USD300 miliar.

Sedangkan ekspor komoditas pertanian terbesar di luar sektor perkebunan, disumbang dari ekspor jagung, beras, ubi kayu, ubi jalar dan komoditas hortikultura. Adapun negara tujuan ekspor komoditas pertanian Indonesia yaitu Filipina, Australia, China dan Taiwan.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini