nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gubernur BI: Kenaikan Impor Tak Akan Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 18 Mei 2018 18:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 18 20 1899990 gubernur-bi-kenaikan-impor-tak-akan-tekan-defisit-transaksi-berjalan-GKSBrTU9R9.jpeg Gubernur BI Agus Martowardojo (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Defisit neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 sebesar USD 1,63 miliar, dinilai tidak akan memperparah defisit transaksi berjalan.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan, neraca perdagangan April memang menunjukkan pertumbuhan ekspor sebesar 9% secara month to month (mtm) yang didorong produksi manufaktur. Namun, peningkatan impor jauh melampaui pertumbuhan ekspor.

Kenaikan impor mencapai USD16,09 miliar atau meningkat 34% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Defisit Neraca Perdagangan

Kenaikan nilai impor ini, lanjut dia, didorong barang konsumsi yakni harga minyak yang naik dan impor bahan pangan. Di sisi lain, impor juga didorong kebutuhan mesin dan komponen pembangunan infrastruktur. Menurutnya, hal ini bukan suatu yang negatif sebab menunjukkan adanya kegiatan produktif dibalik tingginya tingkat impor.

"Kami melihat ini bagian kalau ekonomi Indonesia membaik. Kita juga melihat impor yang tinggi adalah untuk kegiatan produktif, untuk kegiatan-kegiatan infrastruktur," ujarnya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (18/5/2018).

Defisit Neraca Perdagangan

Melihat pengaruhnya pada transaksi berjalan saat ini, jelas Agus, memang mengalami peningkatan defisit menjadi 2,15% dari PDB bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang sebesar 1% dari PDB. Namun, bila dibandingkan kuartal IV 2017 defisit transaksi berjalan mengalami penurunan.

"Karena di kuartal IV 2017 itu 2,3% dari PDB, sekarang 2,15% dari PDB," sebutnya.

Maka, angka tersebut masih menunjukkan transaksi berjalan Indonesia masih sehat, berada di bawah batas aman yakni 3% terhadap PDB. "Kita perkirakan masih akan ada di kisaran 2%-2,5% dari PDB sepanjang 2018," imbuhnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini