nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos BEI ke Gubernur Baru BI: Tolong Buktikan Fundamental Ekonomi RI Kuat

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 24 Mei 2018 20:52 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 24 20 1902366 bos-bei-ke-gubernur-baru-bi-tolong-buktikan-fundamental-ekonomi-ri-kuat-vDZhAFyLzM.jpg Foto: Dirut BEI Minta Bukti Perry Warjiyo soal Fundamental Ekonomi (Ulfa/Okezone)

JAKARTA - Mahkamah Agung (MA) resmi melantik Perry Warjiyo menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2018-2023. Setelah menjabat, banyak pekerjaan rumah (PR) yang menunggu Perry untuk segera dituntaskan, salah satunya adalah persoalan nilai tukar Rupiah.

Berbagai pesan dan harapan pun mengalir kepada Perry, terkait dengan kondisi perekonomian Indonesia. Salah satunya dari Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio.

Tito mengharapkan agar Perry mampu membuktikan bahwa fundamental perekonomian masih kuat, sebagaimana yang diutarakan oleh para petinggi negara. Dengan demikian, bank sentral mampu memberikan jaminan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat serta investor kepada perekonomian Indonesia.

"Kami mengharapkan otoritas moneter sekarang menunjukan wibawa dan charming-nya berbicara kepada publik dan kepada masyarakat dan mengkonfirmasi fundamental itu sebenernya tidak selemah sekarang, tolong dikonfirmasi dan dibuktikan itu," ujarnya di Pasific Place, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

 Wajah Semringah Perry Warjiyo Usai Sumpah Jabatan Pelantikan Gubernur Bank Indonesia

Tito juga berharap, bahwa Gubernur Bank Sentral yang baru mampu meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia memiliki masa depan perekonomian yang cerah. Bukan sebaliknya, membuat bayangan yang cukup mengkhawatirkan di pasar.

Tito sempat menyinggung rencana penyederhanaan nilai mata uang atau redenominasi. Menurut dia, Gubernur BI yang baru harus mampu mengkomunikasikan kepada publik rencana redenominasi tanpa embel-embel yang membuat khawatir soal masa depan perekonomian Indonesia, khususnya Rupiah.

"Bukan saya tidak setuju dengan redenominasi, tapi kalau seorang pejabat otoritas moneter mengatakan, 'oh redominasi nanti kalau USD1 (senilai) Rp1 juta bagaimana?' Jangan begitu dong, itu sama saja menganggap bahwa masa depan lebih buruk dari masa sekarang," terang Tito.

Tito juga menyatakan, kebijakan moneter yang membangun kepercayaan publik harus diimbangi dengan kebijakan fiskal yang selaras. Dalam hal ini, pemangku kebijakan fiskal harus meyakinkan publik serta investor bahwa Indonesia memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kokoh, sehingga mampu menjamin keberlangsungan perekonomian.

 Wajah Semringah Perry Warjiyo Usai Sumpah Jabatan Pelantikan Gubernur Bank Indonesia

Di samping itu, pemangku kebijakan fiskal juga harus mampu menumbuhkan kepercayaan bahwa utang Indonesia saat ini tidak akan membebani perekonomian dan APBN.

"Mestinya persepsi jelek mengenai kelemahan Rupiah dan ketidakkuatan APBN akan hilang," tukas dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini