nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Revolusi Industri 4.0, Sri Mulyani: Skill Training Vokasi Sangat Diperlukan

Bramantyo, Jurnalis · Sabtu 26 Mei 2018 16:16 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 26 320 1903128 revolusi-industri-4-0-sri-mulyani-skill-training-vokasi-sangat-diperlukan-l3sX7WVVkn.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Bramantyo/Okezone)

SUKOHARJO - Revolusi industri 4.0 yang mempunyai ciri otomasi dan ekonomi digital. Perkembangan super-computer, robot, artificial intelligence, dan modifikasi genetik mengakibatkan pergeseran tren tenaga kerja, yang tidak lagi bergantung pada tenaga manusia, tapi pada mesin.

Imbasnya dari revolusi industri 4.0 yang dikhawatirkan mengakibatkan pergeseran tren tenaga kerja yang tidak lagi bergantung pada tenaga manusia tetapi pada mesin banyak dikhawatirkan dampak ke depannya.

Beberapa tahun ke depan sesuai dengan tren global jenis pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Hal ini yang berdampak pada pergeseran tren dunia dari sektor manufaktur ke sektor jasa yang membutuhkan tenaga kerja jenis middle-higher skilled, bukan lagi low-skilled labour.

Patut Dibanggakan, Robot-Robot Karya Siswa SD Ini Harumkan Nama Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebut bahwa revolusi industri 4.0 banyak negara yang sebenarnya juga belum siap untuk masuk dalam revolusi industri 4.0 yang sering disebut-sebut belakangan ini. Meski begitu mau tidak mau semua (negara) harus mengikuti trennya.

"Di bilang siap apa tidak (revolusi industri 4.0) hampir semua (negara) tidak siap. Tapi pemerintah negara-negara di dunia termasuk Indonesia harus mulai menyiapkannya dengan cara memberikan edukasi yang kepada masyarakat," jelas Sri Mulyani (26/5/2018).

Menurutnya cara untuk menghadapi revolusi industri 4.0, pemerintah harus banyak memberikan pelatihan. Salah satu contohnya adalah Singapura. Negara tersebut memiliki program life long learning. Itu bermakna bahwa menuntut ilmu tidak hanya melalui sekolah. Namun sedari bayi (lahir) hingga usia tua tetap harus belajar.

Patut Dibanggakan, Robot-Robot Karya Siswa SD Ini Harumkan Nama Indonesia

"Solusinya gelar training, re education. Dan Indonesia juga bisa," lanjut Sri Mulyani.

Banyak diketahui tenaga kerja Indonesia banyak yang hanya lulusan dari SMP. Hal itu menjadi perhatian besar bagi pemerintah. Jumlah tenaga kerja Indonesia yang 110 juta itu mayoritas pendidikannya hanya SD dan SMP. Fokus perintah pada 60-70 persen (pekerja lulusan SD/SMP) ini harus diberikan skill traning vokasi.

"Namun vokasi apa yang tidak bisa diambil oleh robot. Jika (belajar) menjahit sebentar lagi hilang. Namun yang tidak (terganti) robot salah satunya adalah kuliner," pungkas Sri Mulyani. (Bramantyo)

 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini