nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Proses Integrasi PGN-Pertagas Seharusnya Tak Butuh Modal Besar

ant, Jurnalis · Kamis 31 Mei 2018 17:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 31 320 1905030 proses-integrasi-pgn-pertagas-seharusnya-tak-butuh-modal-besar-HXcsjFu1dF.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Proses integrasi PT Pertamina Gas (Pertagas) ke dalam PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk adalah restrukturisasi internal biasa sehingga tidak termasuk transaksi akuisisi berdasarkan mekanisme pasar.

"Integrasi Pertagas ke PGN masuk dalam kategori restrukturisasi internal sehingga seharusnya dilakukan seefisien mungkin dan tidak melibatkan uang dalam jumlah banyak," kata Analis Investa Sarana Mandiri, Hans Kwee saat dihubungi di Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Penegasan tersebut terkait dengan penolakan Serikat Pekerja Pertamina Gas (SPPG) terhadap rencana pembentukan holding BUMN Migas, khususnya pada tahap penggabungan PT Pertagas ke PT PGN Tbk dan dijadwalkan tuntas Agustus tahun ini oleh Kementerian BUMN.

SPPG mengungkapkan sejumlah alasan untuk menolak instruksi Kementerian BUMN melebur Pertagas sebagai anak usaha PGN, antara lain, akuisisi saham dan seluruh aset Pertagas oleh PGN disebut membutuhkan dana tunai yang sangat besar sehingga mereka meragukan PGN memiliki dana yang cukup untuk melakukan akuisisi tersebut.

 

Hans melanjutkan, tujuan awal proses integrasi itu adalah untuk membentuk holding yang kuat dengan Pertamina sebagai induknya. "Jadi seharusnya prosesnya tidak mengeluarkan uang karena ini akuisisi internal," kata Hans.

Dia mengaku tidak bisa menghitung berapa harga saham Pertagas berdasarkan nilai buku yang ideal untuk ditebus PGN karena Pertagas bukan perusahaan publik.

Selain harus mengeluarkan uang, Hans menyebutkan, proses akuisisi menggunakan mekanisme pasar juga menimbulkan kewajiban perpajakan yang harus ditanggung oleh Pertamina, PGN, dan Pertagas itu sehingga transaksi tersebut sebaiknya dihindari.

"Menurut saya lebih baik mekanisme integrasinya dilakukan dengan cara merger melalui 'share swap'. Pertamina menyerahkan sahamnya di Pertagas sebagai milik pemerintah, lalu selanjutnya pemerintah menginbreng saham tersebut sebagai modal PGN," katanya.

 

Proses tersebut menurut Hans tidak akan memakan waktu lama seperti yang dikhawatirkan pemerintah selama ini. Selain itu yang lebih penting lagi, tidak perlu ada banyak uang yang dikeluarkan untuk menyelesaikannya.

"Ibaratnya pemerintah hanya mengeluarkan dari kantong kiri dan masuk lagi ke kantong kanan," kata Hans.

Sebelumnya Analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menilai penolakan SPPG merupakan bentuk kekhawatiran para pekerja Pertagas atas masa depan mata pencahariannya di perusahaan tersebut pascaakuisisi.

"Dari sisi Serikat Pekerja saya melihat mereka khawatir akan ada efisiensi tenaga kerja. Jadi mungkin mereka memerlukan kejelasan terkait jaminan kerja dan itu pun sudah dijamin oleh Kementerian BUMN bahwa tidak akan terjadi PHK," kata Nafan.

 

Untuk itu, Nafan menyarankan manajemen PGN melakukan pendekatan persuasif dan meyakinkan SPPG bahwa setelah Pertagas menjadi anak usaha PGN, manajemen subholding gas tersebut tidak akan mengubah komposisi jumlah pekerja dan tingkat kesejahteraannya.

"Ini merupakan tantangan yang harus diselesaikan manajemen PGN secara damai. Kecuali, kalau ternyata SPPG itu menjadi bagian dari teknik tarik ulur negosiasi oleh Pertagas, sehingga bisa mendapatkan harga tertentu dalam kesepakatan," ungkapnya.

Jika hal tersebut memang terjadi, Nafan menilai Kementerian BUMN sebagai pengelola perusahaan pelat merah di Indonesia harus turun tangan dan membuat keputusan yang tegas.

Laporan keuangan 2017 kedua perusahaan, diketahui bahwa PGN memiliki kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan Pertagas.

PGN tercatat memiliki total aset bernilai USD6,29 miliar. Di antaranya adalah jaringan infrastruktur pipa gas yang sampai saat ini mencapai 7.453 kilometer (km). Jumlah aset PGN tersebut 3,3 kali lipat lebih besar dibandingkan Pertagas yang hanya memiliki aset senilai USD1,92 miliar. Panjang pipa yang dikelola Pertagas pun hanya sepanjang 2.438 km yang digunakan untuk menyalurkan gas kepada pembeli.

Sementara dari sisi pendapatan, PGN berhasil mengumpulkan uang USD2,97 miliar sepanjang 2017. Realisasi itu 4,7 kali lipat lebih besar dibandingkan pendapatan Pertagas tahun lalu sebanyak USD625 juta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini