Lebih Tinggi, BPS Catat Inflasi Mei 2018 0,21%

Ulfa Arieza, Jurnalis · Senin 04 Juni 2018 11:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 04 20 1906191 lebih-tinggi-bps-catat-inflasi-mei-2018-0-21-1VzfuSPrTt.jpeg Badan Pusat Statistik (Foto: Ulfa/Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Mei 2018 sebesar 0,21% (mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi April 2018 sebesar 0,10 %. Namun lebih rendah dibandingkan inflasi Mei 2017 yang sebesar 0,39%.

Adapun inflasi tahun kalender Mei adalah 1,30%. Sementara, inflasi tahunan Mei 2018 sebesar 3,23 (yoy).

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, inflasi Mei 2018 jauh lebih rendah dari Mei 2017 yang tercatat inflasi sebesar 0,39%. Inflasi Mei 2018 juga lebih rendah dibandingkan dengan Mei 2016 yang mengalami inflasi 0,24%.

"Ini kabar yang menggembirakan dan inflasi ke depan diharapkan masih terkendali sesuai dengan target yang ditetapkan 3,5% plus minus 1%," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (4/6/2018).

Inflasi 2017 Tercatat 3,61%, Dianggap Masih Aman

Kecuk melanjutkan, BPS telah melakukan pemantauan di 82 kota di Indonesia. Dari 82 kota tersebut, sebanyak 65 kota mengalami inflasi.

Pantauan BPS menyebut, inflasi tertinggi ada di Kota Tual dan inflasi terendah di Kota Purwokerto dan Tangerang.

Sementara sisanya sebanyak 17 kota mengalami deflasi. Adapun deflasi tertinggi di Kota Pangkal Pinang dan deflasi terendah terjadi di Kota Pematang Siantar.

Sebelumnya, Ekonom Indef Bhima Yudhistira memprediksi inflasi pada Mei 2018 diprediksi sebesar 0,3% (mtm) atau 3,3% (yoy). Inflasi Mei 2018 akan lebih rendah dari Mei 2017, sebab tahun lalu ada efek pencabutan subsidi listrik 900 va.

Inflasi 2017 Tercatat 3,61%, Dianggap Masih Aman

"Overall inflasi Mei tahun ini masih di bawah target APBN sebesar 3,5%," ujar Bhima kepada Okezone.

Bhima menyebutkan, ada beberapa faktor yang menjadi pendorong inflasi di bulan Mei, di antaranya karena bertepatan dengan bulan Ramadan.

"Di mana permintaan barang kebutuhan pokok tinggi dan ada tekanan inflasi komponen volatile food," imbuhnya.

"Kemudian efek imported inflation akibat pelemahan kurs juga berimbas pada naiknya harga barang konsumsi di tingkat konsumen terutama barang impor," imbuh dia.

Selain itu, lanjutnya, pembelian tiket mudik Lebaran baik moda transportasi darat, laut dan udara juga mendorong inflasi dari sisi transportasi hingga Juni mendatang

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini