Pentingnya Investasi di Tengah Berkembangnya Industri 4.0

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Selasa 05 Juni 2018 10:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 05 320 1906676 pentingnya-investasi-di-tengah-berkembangnya-industri-4-0-ign1HZQ4PY.jpg Investasi (Foto: Okezone)

JAKARTA – Pemerintah harus menjaga iklim investasi di tengah berkembangnya revolusi industri 4.0. Pasalnya, investasi berbasis teknologi dinilai akan tumbuh sejalan dengan adanya pergeseran ke industri 4.0.

Anggota DPR RI Eka Sastra mengatakan, terkait industri 4.0, proses produksi sudah menggunakan big data. Hal ini yang membedakan industri 4.0 dengan industri pada gelombang-gelombang sebelumnya.

“Soal revolusi industri 4.0 ini bukan soal siap atau tidak tapi bagaimana kita terlibat di dalamnya”, ujarnya, Selasa (6/5/2018).

Industri Perpipaan Indonesia dengan Prinsip Kemitraan Jangka Panjang

Sejauh ini sudah menyiapkan lima sektor industri untuk dihadapkan pada revolusi industri 4.0. Sektor itu adalah makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Sedangkan industri lainnya di luar ke-5 sektor tersebut tetap akan berkontribusi pada perekonomian Indonesia, baik sebagai penyumbang pendapatan negara, serta penyerap tenaga kerja.

Pengamat Ekonomi UGM Tony Prasetiantono menyampaikan, salah satu upaya Indonesia untuk stabilitas rupiah salah satunya adalah dengan mengandalkan ekspor dan investasi. Faktor-faktor itu saling berkaitan sebab untuk ekspor diperlukan kegiatan industri dan industri amat erat berkaitan dengan investasi.

"Pemerintah sudah bekerja keras untuk menarik investasi sebanyak mungkin," ujarnya.

Berbagai Pelaku Usaha Industri Kreatif Ambil Bagian pada Pemeran UMKM di Semarang

Namun berkebalikan dengan hal tersebut, fakta di dalam negeri menunjukkan sejumlah investor justru merasa tidak nyaman. Alasan utamanya adalah adanya regulasi-regulasi tertentu yang berujung peningkatan biaya produksi.

Regulasi yang muncul salah satunya dilatarbelakangi oleh perlunya pemerintah meningkatkan pendapatan negara, yang kemudian diwujudkan dengan menaikkan tarif pajak, bea, cukai, dan retribusi.

Hal tersebut dipandang menyebabkan para pelaku industri dalam kondisi dilematis karena harus menahan produksi untuk menghindari peningkatan biaya. Peningkatan kapasitas produksi akan mengarahkan aktivitas usaha berbalik dari menghasilkan keuntungan menjadi pemicu kerugian karena peningkatan produksi berarti peningkatan jumlah pajak, bea, cukai, dan retribusi yang harus dibayar.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini