nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bank Dunia Sebut Ekonomi Indonesia Tumbuh Cepat di Triwulan Pertama

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 06 Juni 2018 13:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 06 20 1907257 bank-dunia-sebut-ekonomi-indonesia-tumbuh-cepat-di-triwulan-pertama-5HBJuqZsJw.jpeg Foto: Giri Hartomo/Okezone

JAKARTA - World Bank atau Bank Dunia menyebut perekonomian Indonesia terus tumbuh dengan cepat di triwulan pertama tahun 2018. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan pertama mencapai 5,06%.

Chief Economies Work Bank Frederico Gil Sander mengatakan, tumbuh cepat nya perekonomian Indonesia terdorong oleh investasi yang cukup tinggi. Meskipun, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami penurunan tipis menjadi 5,1%, namun hal tersebut sudah cukup membuktikan jika investasi yang masuk ke Indonesia masih cukup tinggi.

"(Pertumbuhan ekonomi) terdorong oleh investasi yang tinggi. Pertumbuhan PDB riil menurun tipis menjadi 5,1% pada Triwulan ke 1 tahun 2018, sedikit lebih rendah dari 5,2% pada Triwulan ke-4 tahun 2017," ujarnya di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Frederico menyebut, tingginya investasi terdorong oleh meningkatkan harga komoditas global. Khususnya pada investasi permesinan, peralatan, dan kendaraan bermotor.

grafik

"Akibatnya, pembentukan modal tetap bruto bertumbuh sebesar 7,9%, yang tercepat dalam lebih dari 5 tahun ini," ucapnya.

Pertumbuhan yang lebih tinggi dalam investasi di permesinan juga menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam impor. Angka impor bahkan tumbuh lebih dari dua kali laju pertumbuhan ekspor, dan bertindak sebagai penghambat pada pertumbuhan. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi swasta tetap sebesar 5%. Meskipun terdapat tanda-tanda awal pemulihan penjualan ritel.

"Pertumbuhan di sisi produksi adalah pertumbuhan yang meluas, dan nilai tambah bruto pada harga produsen dipacu di triwulan ini," jelasnya.

Defisit neraca transaksi berjalan pun menurun di Triwulan pertama tahun ini. Hal itu disebabkan oleh defisit perdagangan jasa yang menurun tajam. Tercatat, defisit neraca transaksi berjalan menurun menjadi 2,1% dari PDB pada Triwulan pertama. Padahal pada kuartal sebelumnya, defisit neraca perdagangan berada di kisaran 2,3% dari PDB di Triwulan ke-4

"Sebagian oleh karena masuknya wisatawan asing yang lebih tinggi," ucapnya.

grafik

Di sisi lain, total impor bertumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan dengan ekspor tahun ke tahun (year-on-year). Hal tersebut dikarenakan investasi yang padat impor (import-intensive) melonjak dan ekspor melambat. Dari sisi inflasi, mengalami penurunan pada triwulan pertama tahun ini. Hal itu disebabkan adanya efek dasar (base effect).

Tercatat, inflasi IHK mengalami penurunan menjadi rata-rata 3,3% tahun-ke-tahun (yoy) di Triwulan pertama tahun 2018, dan menyentuh rata-rata triwulanan yang terendah sejak Triwulan keempat tahun 2016. Inflasi inti juga turun dari rata-rata di Triwulan ke4 sebesar 3,0% menjadi 2,7% di Triwulan pertama.

"Inflasi IHK yang lebih rendah tersebut sebagian besar disebabkan oleh peningkatan yang lebih kecil dalam harga perumahan, listrik, gas, dan bahan bakar, oleh karena adanya efek dasar yang tinggi di Triwulan ke-l tahun 2017 karena adanya kenaikan tarif listrik. Namun demikian, inflasi harga makanan telah mengalami peningkatan," jelasnya.

Di sisi lain, belanja pemerintah justru kembali mengalami peningkatan. Hal itu dikarenakan adanya peningkatan subsidi bahan bakar dan belanja bantuan sosial. Dalam 4 bulan pertama tahun 2018, penerimaan pemerintah mengalami pertumbuhan yang signifikan, mencapai nilai yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Belanja juga melonjak karena subsidi bahan bakar dan belanja bantuan sosial yang lebih tinggi, sementara belanja modal mengalami kontraksi.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini