nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bank Dunia Ungkap Alasan Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 06 Juni 2018 14:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 06 20 1907277 bank-dunia-ungkap-alasan-pelemahan-nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-e7JpPO1TyN.jpeg Foto: Paparan kondisi perekonomian oleh Bank Dunia (Giri/Okezone)

JAKARTA - World Bank atau Bank Dunia buka suara terkait pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang belakangan terjadi. Bahkan beberapa kali Rupiah menembus angka Rp14.000 per USD.

Chief Economies Work Bank Frederico Gil Sander mengatakan, ada beberapa penyebab yang membuat Rupiah melemah. Penyebab pertama adalah adanya pengetatan pada keuangan global.

Hal tersebut menyusul reformasi kebijakan moneter yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Mulai dari pengetatan bea masuk impor baja yang memicu perang dagang, hingga pemangkasan pajak untuk perusahaan.

"Kondisi keuangan global yang lebih ketat dan meningkatnya volatilitas berkontribusi terhadap arus keluar modal dan depresiasi nilai Rupiah," ujarnya di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Menurut Frederico, adanya reformasi kebijakan moneter Amerika serikat memberikan dampak volitalitas terutama bagu negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Terlihat, nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan secara berturut turut dalam satu bulan terakhir.

"Dengan adanya normalisasi kebijakan moneter AS yang diproyeksikan akan lebih cepat dari yang diperkirakan, kondisi keuangan global telah mengalami pengetatan yang lebih cepat dari yang diperkirakan, mengakibatkan terjadinya volatilitas di antara negara-negara berkembang dalam beberapa bulan terakhir ini," jelasnya.

Menurut Frederico, adanya reformasi kebijakan, membuat arus modal keluar dari portofolio investasi di negara berkembang cukup besar. Hal tersebut membuat defisit neraca pembayaran sebesar 1,5% dari PDB di triwulan pertama.

Apalagi, portofolio investasi asing di Indonesia masih relatif tinggi. Bagiamana tidak, 49% dari utang dalam negeri Indonesia dipegang oleh investor asing.

"Akibatnya, nilai imbal hasil obligasi dan nilai Rupiah mendapat tekanan," tandas dia.

(ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini