nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bank Dunia Pangkas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 jadi 5,2%

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 06 Juni 2018 14:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 06 06 20 1907283 bank-dunia-pangkas-prediksi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2018-jadi-5-2-HOREDSp2hs.jpg Foto: Pembangunan Infrastruktur (Okezone)

JAKARTA - Bank Dunia atau World Bank memprediksi perekonomian Indonesia akan tetap positif. Namun World Bank merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.

Bank Dunia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 sebesar 5,2% turun dari prediksi sebelumnya 5,3%.  Prediksi yang ditetapkan bank dunia, lebih rendah dari target pemerintah yaitu sebesar 5,4%.

Country Director of Director of the World Bank Indonesia Rodrigo A Chaves mengatakan, perubahan prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut dikarenakan ada beberapa peningkatan resiko yang harus diperhatikan. Seperti arus perdagangan yang menurun serta proyeksi pertumbuhan ekonomi yang melambat.

"Seiring dengan proyeksi pertumbuhan perekonomian global yang melambat dan arus perdagangan menurun dari level tertingginya baru-baru ini, pertumbuhan PDB Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2% pada tahun 2018," ujarnya di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Bank Dunia memprediksi jika konsumsi swasta dan investasi diperkirakan sedikit meningkat. Hal tersebut menyusul tingginya harga komoditas yang terus berlanjut.

"Konsumsi swasta diperkirakan akan sedikit meningkat, sementara pertumbuhan investasi diproyeksikan tetap tinggi, mengingat tingginya harga komoditas yang terus berlanjut," jelasnya.

Namun sayangnya, pertumbuhan investasi masih dibayangi oleh tingginya nilai impor. Sedangkan ekspor masih akan terbebani dengan menurunnya perdagangan global.

"Mengingat sifat investasi yang sarat impor, ekspor bersih akan terus membebani pertumbuhan ekonomi oleh karena pertumbuhan ekspor melambat sejalan dengan menurunnya perdagangan global," kata Rodrigo.

Rodrigo juga menyebut jika Indeks Harga Konsumen (IHK) masih rendah, diperkirakan hanya sebesar 3,5% saja. Sementara neraca transaksi berjalan diprediksi masih akan terjadi defisit sebesar minus 2% dan neraca anggaran pemerintah defisit sebesar minus 2,1%.

Bank Dunia juga memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan akan melebar. Hal itu disebabkan permintaan dalam negeri yang lebih tinggi, sementara kondisi perdagangan dan pertumbuhan global melambat.

Dari sisi pasar uang dan pasar saham, Rodrigo juga memperkirakan masih terdapat risiko dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Artinya, risiko pada volitalitas di pasar keuangan dan pasar modal global masih akan membayangi Indonesia.

"Risiko terhadap perkiraan perekonomian cenderung menurun di tengah kondisi moneter yang terus mengetat dan timbulnya volatilitas keuangan yang berpusat di negara-negara berkembang yang lebih rentan, seperti Argentina dan Turki," jelasnya.


(ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini