nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Penjual Beduk Musiman di Tanah Abang

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 14 Juni 2018 19:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 06 14 320 1910395 kisah-penjual-beduk-musiman-di-tanah-abang-HfjpsePnpg.jpg Foto: Yohana

JAKARTA - Beduk menjadi bagian penting meramaikan malam takbir. Anak-anak hingga orang dewasa akan memukul beduk baik di mesjid-mesjid maupun berkeliling di jalan.

Kebutuhan ini pun dimanfaatkan sejumlah pedagang beduk disepanjang jalan KH. Mas Mansyur, Tanah Abang. Mereka dengan beragam profesi mengambil kesempatan dengan menjadi pedagang beduk musiman.

Meski saat momen Lebaran penjualan kebutuhan beduk pasti meningkat , namun tak semua pedagang mendulang untung. Setiap pedagang beduk ini pun memiliki suka duka tersendiri menjadi pedagang musiman.

Seperti Mona alias Fauzi, berlatar belakang pedagang sapi dan kambing ini pun mencoba meraup untung dari momen Lebaran. Bermodalkan keuntungan di tahun lalu sebesar Rp15 juta, dia membuat lebih banyak beduk. Dari sebelumnya 250 beduk pada tahun lalu, kini mencapai 350 beduk.

Sayangnya beduk ukuran kecil dan sedang yang laku. Untuk ukuran besar dari 100 buah hanya laku 30 buah. "Padahal tahun lalu H-3 langsung diserbu. Penjualan habis semua. Tahun ini masih sepi, sudah H-1 masih sisa banyak," katanya kepada Okezone, Kamis (14/6/2018).

Kondisi yang sama dialami, Anwar pedagang beduk berukuran kecil. Sejak bulan puasa penjualan hanya mencapi 8 buah padahal yang disipakan 350 beduk.

"Beduknya dijual seharga Rp100.000, modal satu beduk bisa Rp85.000," sebutnya.

Hal lainnya, kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri. Sebagai penjual dipinggir jalan harus mampu melawan teriknya matahari, maupun ketika hujan, dirinya harus sigap mengamankan beduk.

"Cuaca juga jadi suka duka, kalau kepanasan dan kehujanan," katanya.

Kondisi ini tak jauh berbeda dari yang dialami Endang Kurniati, pedagang beduk lainnya.

Wanita yang berprofesi supir ojek online ini mengaku, saat hujan dirinya harus sigap mengamankan beduk-beduk buatannya yang berukuran besar, sedang, dan kecil.

"Saya tutupin kalau yang besar-besar. Kalau yang sempet diangkat, yang diangkatin ke tempat aman," katanya.

Dia sendiri, mendapatkan keuntungan dari menjual beduk musiman. Berpengalaman 20 tahun menjadi penjual beduk jelang Lebaran, Endang punya strategi sendiri untuk mendulang untung.

Dia menjajakan beduk buatannya sebelum memasuki bulan puasa atau sejak bulan April. Saingannya pun tak banyak, hingga akumulasi keuntungan mencapai Rp16 juta. Angka itu bahkan bersih dari modal awalnya yang senilai Rp25 juta.

"Modal awal kan Rp25 juta, hasil pinjam-pinjam ke orang-orang. Alhamdulillah sudah bisa lunas, untung Rp16 juta setelah lunasin modal awal," ujarnya.

Keuntungan ini, katanya, jauh lebih tinggi ketimbang penjualan tahun lalu. Sebab tahun lalu pelarangan berjualan beduk di pinggir jalan membuat dia harus 'kucing-kucingan', untung yang didapat pun tak sebesar sekarang.

"Dulu kan enggak boleh, jadi kucing-kucingan. Sekarang sudah enggak dilarang, jadi saya jualan sejak bulan April, lebih duluan dari pedagang yang lainnya," kisahnya.

(feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini