nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wall Street Dibuka Mixed, Investor Cermati Perang Dagang AS-China

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Kamis 21 Juni 2018 21:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 06 21 278 1912508 wall-street-dibuka-mixed-investor-cermati-perang-dagang-as-china-iKntRaxogN.jpg Bursa saham Wall Street dibuka mixed (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA – Wall Street dibuka bervariasi pada perdagangan Kamis (21/6/2018). Bursa saham AS masih dibayangi perang dagang antara AS dan China.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka melemah karena kekhawatiran perang dagang. Sementara itu keuntungan dalam saham teknologi berkapitalisasi besar mampu mengangkat indeks S&P 500 dan Nasdaq.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 18,59 poin atau 0,08% menjadi 24.639,21. Indeks S&P 500 dibuka lebih tinggi 1,96 poin atau 0,07% ke 2.769,28 dan Nasdaq Composite naik 18,78 poin atau 0,24% menjadi 7.800,30 pada bel pembukaan.

Banteng Wall Street, Salah Satu Ikon Terpopuler Kota New York

Untuk diketahui, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan kritiknya terhadap Republik Rakyat China dalam laporan yang diterbitkan Gedung Putih, menyebut "agresi ekonomi" China adalah ancaman dunia.

Laporan setebal 35 halaman berjudul "Bagaimana Agresi Ekonomi China Mengancam Teknologi dan Kekayaan Intelektual Amerika Serikat dan Dunia", datang sehari setelah Trump mengancam akan menampar impor barang-barang China dengan tarif tambahan 10%. Hal ini telah memicu kembali ketegangan perang dagang.

Melansir CNBC, Rabu (20/6/2018), Gedung Putih mengatakan China telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dan menjadi negara ekonomi terbesar kedua di dunia, dengan cara yang di luar norma.

Defisit Neraca Perdagangan 

"China memodernisasi industri dan meningkatkan rantai nilai global secara signifikan melalui tindakan, kebijakan, dan praktik agresif yang jauh di luar norma dan aturan global," tulis laporan Gedung Putih dalam pembukaannya.

Laporan tersebut melanjutkan bagaimana praktik-praktik China di Amerika Serikat yang berusaha mengakses dan mencuri teknologi dan kekayaan intelektual Amerika Serikat.

Tindakan "agresi ekonomi" China, menurut laporan tersebut, termasuk pencurian teknologi dan kekayaan intelektual AS secara fisik dan siber, menghindari undang-undang pengetatan ekspor AS, pemalsuan, dan pembajakan.

 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini