nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Strategi Mendag Cari 'Untung' di Perang Dagang AS-China

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 22 Juni 2018 15:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 22 320 1912788 strategi-mendag-cari-untung-di-perang-dagang-as-china-cQSQfaUTCx.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China sudah dimulai. Hal itu menyusul pengenaan tarif impor atas produk produk China oleh Amerika Serikat sebesar 25%.

Menanggapi hal tersebut Menteri Perdagangan Enggartisto Lukita mengatakan, adanya perang dagang tersebut pihaknya akan menyikapinya dengan hati-hati. Ada baiknya, Indonesia menunggu bagaimana kelanjutannya mengenai perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Hal tersebut dilakukan agar Indonesia tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Karena jika hal tersebut terjadi tentunya akan merugikan Indonesia.

"Kita ikuti terus prosesnya karena kebijakan atau hal itu bisa berubah setiap saat. Seperti hal sebelumnya ada pengumuman mengenai dikenakannya tarif, tapi kemudian batal, sekarang dikenakan lagi," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

 

Sambil menunggu lanjut Enggar, pihaknya terus menghendakinya perjanjian perdagangan bilateral terhadap kedua negara tersebut, sehingga ketika perang dagang tersebut benar-benar terjadi, maka Indonesia tidak terlalu berdampak besar.

"Kita bukan mau memanfaatkan. kalimat yang tepat barangkali kita sekarang lihat ini sebagai peluang untuk mengisi kekosongan itu," ucap Enggar

"Di Jepang, Tokyo awal bulan kami akan mengadakan pertemuan bilateral antar negara, termasuk dengan China untuk kita bahas kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan ekspor," imbuhnya.

Meski begitu, Enggar masih belum bisa merinci peluang seperti apa yang akan dilakukan Pemerintah. Sebab hal tersebut harus dilihat dari kemampuan Indonesia. "Ya nanti kita lihat lah peluangnya seperti apa. pasti selalu ada," ucapnya.

 

Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan tarif sebesar 25% atas produk-produk impor dari China dengan total nilai USD50 miliar atau senilai Rp700 triliun Jumat pekan lalu.

Tarif ini terutama menyasar produk-produk teknologi yang dimiliki perusahaan AS di China. Ada sekitar 1.300 produk yang ditargetkan menerima tarif baru ini, seperti televisi layar datar, perangkat medis, bagian pesawat, telepon genggam, komputer, solar panel, baterai, dan seterusnya.

Tarif ini akan mulai berlaku 6 Juli bulan depan. Tidak perlu menunggu berhari-hari, China membalas mengenakan tarif sebesar 25% juga terhadap 659 produk-produk impor dari AS ke China, yang bila dijumlahkan mencapai jumlah yang sama yaitu sekitar USD50 miliar.

Produk-produk itu antara lain kedelai, jagung, gandum, beras, sorgum, daging sapi, daging babi, unggas, ikan, produk susu, kacang dan sayuran, mobil, dan produk perikanan/kelautan. Tindakan balasan dari China akan dilanjutkan dengan pembalasan berikutnya.

Departemen Perdagangan AS sedang mengidentifikasi produk-produk impor China senilai USD200 miliar untuk mendapatkan tarif tambahan 10% apabila China melakukan pembalasan. China pun mengancam akan melakukan hal serupa bila ada tambahan tindakan tarif dari AS.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini