Rupiah Masih Melemah di Rp14.390

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Senin 02 Juli 2018 17:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 02 278 1916767 rupiah-masih-melemah-di-rp14-390-Efhpzljcyq.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sore ini masih mengalami tekanan. Rupiah pada perdagangan sore ini belum mampu bangkit dan tertahan di level Rp14.390 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin (2/7/2018) pukul 17.26 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 60 poin atau 0,42% ke level Rp14.390 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.325 per USD-Rp14.405 per USD.

Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 50 poin atau 0,35% menjadi Rp14.375 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp14.250 per USD hingga Rp14.405 per USD.

Sempat Sentuh Rp14.200 per Dolar AS, Rupiah Ditutup Menguat 0,53% 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah akan terus mewaspadai pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Selain itu, pemerintah juga tetap menyiapkan beberapa kebijakan untuk menahan nilai tukar Rupiah agar tidak terus melemah.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) misalnya yang beberapa waktu lalu mengambil langkah dengan menaikan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin, sehingga saat ini suku bunga acuan BI menjadi 5,25%.

"Jadi pergerakan ini, kita waspadai terus semuanya. Tapi kita melakukan, otoritas melakukan kebijakan, BI sudah mengambil kebijakan itu," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/7/2018).

Sempat Sentuh Rp14.200 per Dolar AS, Rupiah Ditutup Menguat 0,53% 

Menurut Suahasil, nilai tukar rupiah akan terus mengalami pergerakan secara dinamis. Hal tersebut tergantung dari suplai dan demand dari mata uang itu sendiri. "Ya kalau Rupiah kan dia tergantung gerak dari supply dan demand," ucapnya.

Apalagi lanjut Suahasil, perekonomian Amerika Serikat saat ini sedang dalam tren yang positif. Setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang berencana menaikan suku bunga acuannya sebanyak 4 kali pada tahun ini.

"Global volatility membuat beberapa di internasional itu pergerakan dari portofolio internasional di pasar uang, dari emerging market masuk ke amerika, sehingga uang keluar dari emerging market lalu dia masuk ke Amerika karena suku bunga Amerika relatif lebih tinggi dan diperkirakan masih akan naik," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini